Alamat Waduk Cirata

class=”kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left “
data-id=”6274″
data-slug=””>

4.5
/
5
(
6

votes

)

Lokasi: Desa Tegal Waru, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat

Map: Klik Disini

HTM: Sepeda Motor Rp.3.000, Mobil Rp.5.000

Buka Tutup: 24 Jam

Tidak hanya Waduk Jatiluhur, Purwakarta juga memiliki Waduk Cirata yang menjadi pujian kabupaten ini. Jika Jatiluhur tercatat sebagai bendungan terbesar di Indonesia, maka Waduk Cirata merupakan bendungan PLTA (Pembangkit Tenaga Listrik) terbesar di Asia Tenggara.

Kapasitas listrik sebesar 1.428 GWH pertahun yang dihasilkan, disalurkan melalui sistem interkoneksi ke Jamali (Pulau Jawa, Madura dan Bali) lewat transmisi bertegangan tinggi sebesar 500 kV.

Deskripsi singkat wacana Waduk Cirata tersebut sudah dapat menawarkan citra, seberapa megahnya bendungan ini, sehingga meski tidak dimanfaatkan secara langsung sebagai objek wisata, bendungan ini tetap memberikan daya tarik bagi para wisatawan.

foto by instagram.com/han_ajisptra

Pada kenyataannya, PLTA ini memang tidak hanya megah, tapi juga menyuguhkan panorama alam yang indah sebagaimana bendungan-bendungan raksasa lainnya yang ada di Indonesia. Selain itu, terdapat beberapa aktifitas menarik yang mampu dilakukan di tempat ini yang menjadi daya pikat dan nilai lebih dari Waduk Cirata.

Sejarah Deskripsi

Bendungan Cirata dibangun dalam 2 tahap, adalah pada tahun 1983 – 1988 dan tahun 1995 – 1997. Secara topografi bendungan ini dibangun diantara bukit-bukit yang menjadi penghubung 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Cianjur, Bandung dan Purwarkarta.

Namun, secara administratif lokasi Waduk Cirata masuk ke dalam wilayah Purwakarta dengan alamat di Desa Tegal Waru, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat.

Kawasan bendungan ini mempunyai luas total 43.777,6 hektar yang terbagi atas 37.577,6 hektar wilayah daratan serta 6.200 hektar wilayah perairan. PLTA Cirata berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum dan genangan airnya berasal dari Waduk Saguling yang posisinya lebih tinggi.

Sementara pemikiran air dari Bendungan Cirata selanjutnya akan menuju Bendungan Jatiluhur. Sehingga air dari Bendungan Saguling dimanfaatkan secara terus menerus untuk menghasilkan listrik, mulai dari Bendungan Saguling, Cirata sampai Jatiluhur.

PLTA Cirata terbagi atas 4 bangunan utama, adalah bendungan atau waduk yang dipakai untuk tempat menampung air, terusan air, gedung unit pembangkit atau powerhouse serta switchyard yang merupakan unit transmisi untuk menyalurkan energi listrik.

PLTA ini juga dilengkapi sebuah terowongan yang dipakai sebagai akses jalan ke powerhouse yang berada di dalam perut bumi.

foto by instagram.com/giasfrhn_

Berbeda dengan bendungan raksasa lainnya yang multi fungsi, bendungan ini dibangun dengan fungsi utama sebagai PLTA dengan tujuan awal untuk memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Jawa dan Bali.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, aktifitas yang lain turut berkembang dan ikut mewarnai. Dimulai dengan pengaplikasian budidaya jaring apung pada tahun 1986 dengan maksud untuk memberi lapangan kerja bagi penduduk sekitar.

Keramba apung ini semakin berkembang bahkan dengan jumlah yang melebihi ambang batas sehingga menawarkan dampak negatif terhadap kualitas air. Karena itu, pada tahun 2016, kawasan perairan Waduk Cirata dibuat bersih dari kolam jaring apung (KJA), termasuk yang ada di Bendungan Jatiluhur.

foto by instagram.com/marzzh.a

Kebijakan tersebut hanya berlaku sementara waktu, alasannya adalah petani masih diijinkan untuk menciptakan KJA, namun dengan jumlah yang dibatasi. KJA memang tidak mungkin untuk ditutup sepenuhnya, alasannya selain menjadi lahan ekonomi masyarakat sekitar juga menjadi pemasok 30 persen ikan air tawar di Provinsi Jawa Barat.

Tidak hanya KJA saja aktifitas yang mewarnai tempat bendungan, tapi juga aktifitas wisata. Meski tidak ada area khusus yang dijadikan sebagai tempat wisata, namun keindahan alam yang ada di tempat ini memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai industri pariwisata.

Waduk Cirata sebagaimana bendungan-bendungan raksasa lainnya di Indonesia, juga berselimut kisah-kisah mistik dan misteri yang memberi gambaran bahwa tempat ini merupakan wilayah yang menyeramkan, dimana pengunjung harus memperhatikan sejumlah pantangan yang merupakan salah satu kearifan lokal.

Beberapa kisah misteri tersebut diantaranya yaitu adanya sebuah hotel bagus berbentuk villa kuna di akrab bendungan yang bertarif murah. Namun tidak ada orang yang berani menginap di hotel tersebut kecuali terpaksa alasannya konon seringkali muncul penampakan.

foto by instagram.com/syahlaayunda

Penduduk sekitar juga mempercayai bahwa kawasan waduk, baik di darat maupun di perairan dihuni oleh berbagai jenis makhluk halus dalam jumlah yang banyak dan dengan banyak sekali bentuk. Sosok hantu yang konon paling sering menampakkan diri yaitu banaspati yang berujud seperti manusia namun tubuhnya mengeluarkan api.

Keanehan lainnya yang ada di kawasan ini berkaitan dengan debit air yang secara datang-datang mampu meluap dan dalam waktu singkat surut secara ekstrim. Peristiwa ini kerap terjadi pada saat bulan purnama.

Rute Menuju Lokasi

Tidak sulit untuk menuju ke PLTA terbesar di Asia Tenggara ini, bahkan meski tidak berbekal peta dan membuka google maps sekalipun dipastikan tidak akan tersesat, sebab terletak di perlintasan utama Bandung – Jakarta. Selain itu hampir semua penduduk Purwakarta tahu, dimana letak PLTA tersebut.

Wisatawan yang datang dari Jakarta dapat menempuh beberapa jalur untuk datang di lokasi, baik dengan menggunakan kendaraan eksklusif maupun angkutan umum. Jalur pertama adalah melewati Bogor menuju ke Puncak hingga sampai di Cianjur dan Cikalong Kulon sebelum akibatnya datang di lokasi.

Jalur kedua yaitu melewati Jonggol menuju Cikalong Kulon baru datang di Cirata. Cara lainnya adalah dengan melewati Tol Cikampek dan keluar di pintu Tol Jatiluhur sebelum melanjutkan perjalanan ke arah Plered.

foto by instagram.com/usasjd

Wisatawan yang datang dari Bandung mampu melewati Tol Cipularang dan keluar di pintu Tol Cikalong Wetan sebelum menuju ke arah Plered. Untuk pengunjung dari Cianjur dapat melewati Cikalong Kulon. Sedang yang datang dari Purwakarta mampu menyusuri jalan Cikalong Wetan.

Karena berada di daerah perbukitan, jalan yang harus dilalui menanjak dan penuh dengan tikungan, sehingga perlu perilaku hati-hati dan waspada. Hanya saja tidak perlu khawatir alasannya kondisi jalan sudah beraspal halus dan dengan tubuh jalan yang lebar sehingga dapat dilalui kendaraan-kendaraan besar.

Daya Pikat

Hamparan permukaan air yang berhias kawasan pembudidayaan ikan jaring terapung serta perahu-bahtera nelayan, menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan mata dikala dilihat dari pinggir danau buatan ini.

Keindahan tersebut masih ditambah dengan hijaunya bebukitan yang memagarinya. Terlebih pada sore hari, sunset yang dilihat dari pinggir waduk, menyuguhkan pemandangan yang sangat memukau.

instagram.com/ghyaagia

Kenikmatan berwisata di tempat ini akan semakin lengkap dengan menjelajahi daerah perairan memakai bahtera, serta melihat dari erat daerah pembudidayaan ikan jaring terapung. Untuk berperahu selama 2 – 3 jam mengelilingi perairan waduk, ongkos yang dikeluarkan hanya sebesar Rp.30.000.

Bagi mereka yang mempunyai hobby memancing, Waduk Cirata ialah daerah yang pas untuk memuaskan kegemaran, alasannya di tempat ini hidup banyak sekali jenis ikan air tawar dengan banyak sekali ukuran dalam jumlah yang besar.

Terdapat banyak spot memancing yang sudah dekat di pendengaran mancing mania yang kerap tiba ke daerah ini, diantaranya adalah Calincing, Jangari, Palumbon, Pasir Ucing, Palalangon dan Babakan Garut serta pasir Geulis atau Cipicung.

Satu lagi yang dihentikan dilewatkan saat berkunjung ke Waduk Cirata yakni menikmati masakan khas tempat ini. Di pinggir-pinggir jalan sepanjang lokasi wisata, banyak dijumpai warung-warung yang menjual kuliner, termasuk makanan khas Purwakarta ialah Sate Maranggi.

foto by instagram.com/cepy_222.crh

Namun bila ingin bersantap di sentra kuliner Waduk Cirata, wisatawan dapat menuju ke Buangan. Di tempat ini terdapat banyak warung dan rumah makan yang menyuguhkan banyak sekali hidangan. Hanya saja, meski menawarkan pilihan banyak sekali sajian, ada hidangan yang sama yang terdapat di semua warung yang ada di sini, yaitu Nasi Liwet dan Ikan Bakar.

Keunikan dari masakan khas tersebut tidak dihitung perporsi, melainkan berapa liter beras untuk nasi liwetnya dan berapa kg ikan yang dipesan. Begitu selesai memesan, pengunjung masih harus menunggu kuliner tersebut diolah sekitar 30 – 40 menit, alasannya semua materi untuk memasak benar-benar masih fresh.

Sebelum digoreng atau dibakar, kan-ikan masih dalam keadaan hidup, sayurpun juga langsung dipetik dari pohonnya.

Keunikannya tidak berhenti sampai di situ, tapi juga dari cara penyajian. Makanan yang dihidangkan bagi pengunjung yang datang bersama rombongan, tidak ditempatkan di piring atau mangkok, melainkan di sebuah nampan besar.

Di dalam nampan itulah diletakkan nasi sesuai dengan banyaknya beras yang dipesan, berikut ikan-ikan yang telah diolah, sayur mayur serta sambal. Makara, pengunjung dalam satu rombongan bersantap bersama dalam satu nampan besar, sehingga ketika bersantap, akan mengingatkan siapapun dengan suasana kenduri.

foto by instagram.com/nursacai

Harga nasi liwet dengan lauk ikan bakar tersebut tergantung dari jenis ikan yang dipesan serta embel-embel lauk lainnya, mirip tahu, tempe atau telur. Jika dihitung secara global untuk bersantap 5 orang dengan memesan beras 1 liter dan ikan 1 kg ditambah minuman, rata-rata sseharga Rp.140.000 – Rp.150.000. Harga tersebut sama untuk semua warung yang ada di Buangan.

Untuk sebuah daerah wisata dan dengan menu ikan yang masih segar, harga kuliner yang berlaku di Buangan Waduk Cirata ini relatif murah plus dengan rasa yang yummy.

Harga Tiket Masuk

Untuk memasuki tempat Waduk Cirata, harga tiket masuk yang dikenakan tidak berdasarkan jumlah orang yang masuk ke tempat tersebut melainkan dihitung menurut jenis kendaraan yang dipakai.

foto by instagram.com/aidha_jpt027

Pengunjung yang mengendarai motor, dikenakan tiket masuk seharga Rp.3.000 sedang mobil Rp.5.000. Meski dihitung berdasarkan jenis kendaraan yang digunakan, namun tidak termasuk ongkos parkir. Kaprikornus untuk parkir dikenakan biaya sendiri yang besarnya sama dengan tiket masuk.

Harga tiket masuk yang sangat murah tersebut disebabkan karena Waduk Cirata memang bukan diperuntukkan sebagai kawasan wisata, meski pada hasilnya ketika ini daerah tersebut banyak dikunjungi wisatawan.

Fasilitas

Karena bukan kawasan wisata, maka akomodasi yang tersediapun tidak selengkap akomodasi yang ada di objek-objek pariwisata. Meski demikian wisatawan tidak perlu khawatir jika hanya untuk kebutuhan dasar seperti kamar mandi, MCK dan mushollah, alasannya semuanya sudah tersedia di lokasi.

Untuk mengisi perut dan menghilangkan haus, di kawasan Waduk Cirata terdapat kawasan kuliner yang disebut Buangan. Sedang bagi wisatawan yang ingin bermalam di sekitar bendungan, terdapat sejumlah hotel dengan fasilitas dan tarif yang bervariasi. Bahkan BPWC (Badan Pengelola Waduk Cirata) juga mempunyai hotel sendiri yang disewakan kepada para wisatawan.

Jika ingin menyewa penginapan dengan tarif yang murah, rumah-rumah penduduk yang dijadikan homestay dapat dijadikan pilihan dengan tarif sewa kamar permalam seharga Rp.75.000 – Rp.100.000.

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni