Begini Suasana Lebaran Di Turki, Tradisi Negara Dengan Makanan Khas-Nya

class=”kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left “
data-id=”11334″
data-slug=””>

5
/
5
(
2

votes

)

Idul Fitri tinggal menghitung hari, apa rencana anda untuk mengisi momen lebaran kali ini? Setiap tahun, lebaran menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh umat muslim. Seluruh umat muslim di penjuru dunia bersukacita menyambut hari kemenangan.

Ada begitu banyak tradisi yang dilakukan dan kerap mengundang rindu tersendiri. Di Indonesia misalnya, masyarakat terbiasa melaksanakan ritual pulang kampung ke kampung halaman untuk mengunjungi sanak saudara tercinta.

Tak hanya di Indonesia, mudik juga dilakukan oleh beberapa masyarakat di cuilan dunia lain. Sebut saja Turki, negeri Ataturk yang terkenal dengan sejarah Islamnya. Negeri pimpinan Erdogan tersebut memiliki kisah tersendiri saat idul fitri datang.

Perbedaan mencolok terang terlihat antara masyarakat Indonesia dan Turki. Bahkan banyak warga negara Indonesia yang tinggal disana merasa ada yang kurang saat lebaran di Turki. Apa saja kira-kira yang berbeda dari lebaran di negeri Ataturk tersebut?

Berlebaran di Turki, anda takkan menemukan malam takbiran meriah layaknya di Indonesia. Jika di Indonesia ada pawai yang diisi dengan beragam penampilan takbir memukau, maka disana tidak. Di Turki, takbir hanya dikumandangkan oleh mesjid-mesjid besar.

Bisa dibilang mesjid-mesjid di wilayah pemukiman tidak mengumandangkan takbir pada malam terakhir ramadan. Masyarakat takkan mendengar lafadz Allah tersebut dengan gampang, alasannya hanya terdengar sayup-sayup di kejauhan.

Meskipun begitu, anda tetap bisa takbiran sendiri di rumah. Beberapa WNI yang tinggal di Turki umumnya mengumandangkan takbir dari jendela rumah masing-masing. Selain perbedaan tradisi di malam takbiran, adapula perbedaan yang sangat mencolok.

Di Indonesia mungkin kita lumrah melihat salat eid dilaksanakan di lapangan terbuka maupun mesjid. Pria dan wanita berbondong-bondong tiba ke lokasi salat untuk melakukan ibadah sekali setahun tersebut.

Jangan kaget bila anda takkan menyaksikan wanita salat eid di Turki. Perbedaan madzhab menimbulkan para wanita tak salat eid maupun tarawih di negeri Ottoman. Jumlah rakaat tarawih disini tetap sama dengan di Indonesia, adalah 11 dan 23 rakaat.

Umumnya para wanita tinggal di rumah atau berkumpul di sekitar taman mesjid. Para laki-laki terlihat salat eid berjamaah dengan pakaian terbaik mereka.

Setelan jas menjadi salah satu pakaian yang umum dikenakan oleh para pria Turki. Sedangkan WNI terlihat mengenakan baju koko atau batik untuk menghadiri shalat eid fitri.

WNI perempuan mampu mengunjungi KBRI untuk mengikuti salat eid tahunan. Selain di KBRI, sudut mesjid Sultan Ahmet atau Blue Mosque juga bisa dijadikan daerah salat eid bagi perempuan.

Tapi sudah bisa diduga, sebagian besar wanita yang salat yaitu para WNI. Usai salat eid, orang-orang akan berkumpul di sekitar taman sembari menggelar tikar. Layaknya piknik, beberapa keluarga sengaja membawa bekal makanan dari rumah masing-masing.

Beberapa WNI juga memanfaatkan momen ini untuk bercengkrama bersama. Mereka membawa makanan khas Indonesia sebagai pengobat rindu.

Beruntunglah mahasiswa yang tengah menuntut ilmu, pasalnya mereka mampu sedikit senang. Jauh dari keluarga tentu bukan hal yang menyenangkan, tetapi WNI tahu bagaimana menyiasatinya.

Tak ingin berlarut dengan rasa murung gagal pulang kampung, mereka lebih memilih membuat program berkumpul di KBRI atau ruang publik lainnya.

Di bagian luar mesjid Sultan Ahmet, anda juga bisa menemukan beberapa orang memperlihatkan Turki delight dan beberapa cemilan secara gratis.

Tradisi ini memang sudah dilakukan secara turun-temurun, sebagai bentuk menyebarkan di hari yang bahagia. Satu lagi, santunan angpao idul fitri disini berbeda dengan di Indonesia.

Jika di Indonesia angpao dibagi-bagikan usai salat eid, maka tak demikian di Turki. Anak-anak biasanya akan berkeliling membawa kantong tepat di malam takbiran.

Mereka akan mengetuk pintu-pintu tetangga sekitar sambil menyodorkan kantong tersebut. Sang empunya rumah bisa memperlihatkan apapun yang disediakan.

Biasanya pemilik rumah akan memasukkan permen, coklat, uang atau kacang sebagai hadiah. Cukup unik bukan dukungan angpao disini? Tak melulu angpao uang, belum dewasa akan bahagia mendapati kantong mereka terisi penuh permen dan coklat.

Usai tradisi unik tersebut, jalanan akan kembali lengang dari hiruk pikuk di hari normal atau hari kerja. Tradisi pulang kampung tetap ada di Turki, khususnya di beberapa tempat yang mayoritas penduduknya pendatang.

Masyarakat akan pulang kampung ke kampung halaman beberapa hari sebelum lebaran tiba. Jadi, jangan resah jikalau menyaksikan beberapa jalanan benar-benar lengang. Anda takkan mendapati satu orang pun yang berlalu lalang di sekitar kawasan tinggal anda.

Saat mendatangi sentra keramaian, seperti Blue Mosque atau pusat kota, barulah anda mendapati kepadatan masyarakat lainnya.

Bagi mereka yang tak pulang, menaiki kapal pesiar mengarungi selat Bosphorus bisa menjadi hiburan tersendiri.

Di pinggiran pantai, anda akan mendapati penjual bermacam-macam cemilan khas Turki yang mampu dijumpai dengan mudah. Ada ikan asap, kebab, atau teh Turki yang sudah terkenal ke seantero negeri.

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni