Benteng Kuto Besak

class=”kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left “
data-id=”6703″
data-slug=””>

5
/
5
(
2

votes

)

Lokasi: Jl. Sultan Mahmud Badaruddin 19 Ilir, Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30113

Map: Klik Disini

HTM: Rp.5.000

Buka Tutup: 24 Jam

Menjelang pelaksanaan Asian Games 2020, Kota Palembang terus berbenah, sebab Ibukota Provinsi Sumatera Selatan ini memang dijadikan sebagai salah satu lokasi untuk menggelar berbagai macam pertandingan olah raga yang diikuti oleh negara-negara di kawasan Asia.

Diantara tempat-kawasan yang menerima perhatian khusus, Benteng Kuto Besak adalah salah satu diantaranya.

Landmark ini menjadi sangat penting, alasannya adalah selain merupakan sentra keramaian dan menjadi kawasan berkumpul warga sekitar, juga merupakan objek wisata yang tidak hanya dikenal di dalam negeri tapi juga kerap dikunjungi wisatawan dari manca negara.

foto by instagram.com/aniek_neal

Lebih dari itu, Benteng Kuto Besak merupakan bangunan tempo dulu yang menjadi cagar budaya sekaligus kebanggaan masyarakat Sumsel, alasannya bangunan ini merupakan peninggalan Kerajaan atau Kesultanan Palembang Darussalam yang menjadi saksi sejarah akan kebesaran Palembang pada kurun lampau.

Sejarah Singkat

Benteng Kuto Besak merupakan sentra Kesultanan Palembang yang dibangun Sultan Mahmud Badaruddin I, yang kemudian diteruskan oleh putranya, Sultan Mahmud Bahauddin. Saat dipimpin Sultan Mahmud Bahauddin inilah Kesultanan Palembang maju pesat di segala bidang.

Pemikirannya yang mudah dan realistis, membuat Palembang menjadi bab dari perdagangan internasional. Sedang pemahamannya yang dalam akan ilmu agama, mengakibatkan Palembang sebagai salah satu sentra agama di Nusantara.

Kemajuan Kesultanan Palembang yang begitu pesat tersebut tidak terlepas dari dipindahkannya Keraton Kuto Lamo yang berada di kawasan pedalaman ke Kuto Besak yang ada di pinggir Sungai Musi.

Benteng Kuto Besak mulai dibangun sekitar tahun 1780. Tidak diketahui terperinci, siapa yang menjadi arsiteknya, namun untuk pelaksana pengawasan pekerjaan, dipercayakan kepada warga keturunan Tionghoa.

foto by instagram.com/ahmad_rasyid27

Material untuk membangun benteng ini, berupam kerikil bata yang direkatkan dengan watu kapur dari Pedalaman Sungai Ogan yang dicampur dengan putih telur. Butuh waktu sekitar 17 tahun untuk menyelesaikan Kuto Besak, sebelum alhasil ditempati secara resmi pada 21 Pebruari 1797.

Saat itu, Kuto Besak ibarat bangkit di atas ebuah pulau, karena benteng ini dikelilingi oleh beberapa Sungai. Selain Musi, sungai lain yang mengelilinginya ialah Sungai Sekanak, Tengkuruk dan Kapuran. Namun sekarang hanya tinggal Sunbgai Musi dan Sungai Sekanak saja yang tersisa, sebab yang lainnya telah mengering.

Struktur Bangunan

foto by instagram.com/ssci.palembang.sumsel

Benteng dengan arsitektur bergaya art deco ini berbentuk persegi panjang dan menghadap ke arah Tenggara, tepatnya ke Sungai Musi dengan ukuran 288,75 x 183,75 meter2.

Pada setiap sudut benteng terdapat bastion dengan bentuk trapesium di sudut Timur, Utara dan Selatan, sedang bantion yang ada di sudut Barat berbentuk segi lima.

Kuto Besak mempunyai 3 pintu gerbang, yakni pintu gerbang utama yang ada di sisi Tenggara, serta pintu gerbang tambahan yang ada di sisi Barat Laut dan Timur Laut. Celah intai menghiasi sepanjang dinding benteng ini yang bentuknya semakin dalam semakin mengecil.

foto by instagram.com/queenbe1205

Sisi depan benteng terdapat “tangga dalem” yang dipakai Sultan untuk menuju ke dermaga Sungai Musi dan di bagian ujung dari tangga dalem tersebut terdapat “tangga raja” adalah gerbang yang beratap limas.

Di depan Kuto Besak ada sebuah alun-alun yang dinamakan “meidan”, sedang di erat pintu gerbang utama diletakkan meriam-meriam dengan posisi berjajar. Bangunan yang disebut “pamarakan” atau “pasebahan” mampu ditemui di sisi kanan gerbang.

Bangunan ini merupakan daerah menyampaikan “seba” dan kawasan untuk menggelar upacara kebesaran. Karena itu pada bangunanan pamakaran dilengkapi dengan “balai seri” atau “balai bandung”, berupa daerah duduk Sultan.

foto by instagram.com/genpisumsel

Sisi dalam benteng disebut “rumah sirah” atau “dalem” yang dijadikan sebagai tempat tinggal Sultan. Dalem ini memiliki beberapa bangunan yang dikelilingi tembok berlapis dua.

Salah satu dari bangunan dalem tersebut dipakai oleh Sultan untuk melihat Sungai Musi dan seluruh area keraton. Sedang di bab belakang dalem, terdapat bangunan keputren yang dilengkapi pemandian berbentuk segiempat.

Setelah Kesultanan Palembang Darussalam hanya tinggal nama, Palembang oleh Pemerintah Hindia Belanda dijadikan sebagai tempat administrasi dan Kuto Besak merupakan pusat pemerintahannya.

Tempat ini juga sempat dijadikan sebagai instalasi militer dan kawasan tinggal para perwira militer, pejabat pemerintahan serta Komisaris Hindia-Belanda.

Sekitar tahun 1930-an, di bab Selatan benteng dibangun sebuah rumah sakit yang hingga kini masih bangkit dan dikenal dengan nama R.S AK Gani. Sedang bagian dalam benteng, sekarang dimanfaatkan oleh Komando Daerah Militer (KODAM) II Sriwijaya, sehingga pengunjung tidak dapat masuk ke dalam dan melihat seluruh bagian benteng.

Menikmati Keindahan

foto by instagram.com/yansa202_

Meskipun tidak mampu melihat bentuk bangunan benteng secara detail, pengunjung akan mampu menyaksikan kemegahan dari bangunan ini dengan berada di pelatarannya atau yang dikenal dengan nama Plaza Benteng Kuto Besak (KBK).

Di daerah ini pula pengunjung mampu menyaksikan indahnya suasana Kota Palembang, mulai dari hamparan sungai Musi yang berhias lalu-lalang kapal di tengahnya hingga sejumlah landmark yang ada di kejauhan, salah satu diantaranya ialah Jembatan Ampera dengan warnanya yang merah menyala.

Indahnya pemandangan yang dilihat dari daerah ini, menciptakan KBK setiap hari ramai dikunjungi warga setempat, terutama pada sore dan malam hari. Selain melihat suasana Kota palembang dari kejauhan, di sini pengunjung juga mampu berjalan di sekeliling Plaza Benteng Kuto Besak sambil menikmati banyak sekali macam masakan dari para pedagang kaki lima.

foto by instagram.com/raf2909

Diantara para pedagang kuliner tersebut, yang cukup mengundang perhatian adalah pedagang mie tektek.

Hal tersebut selain disebabkan alasannya jumlah penjualnya yang lebih banyak dibanding penjual masakan yang lain, juga alasannya semua pedagang mie tektek menggunakan tempat duduk berupa kursi-bangku kecil berwarna-warni sehingga cukup menarik untuk dilihat.

Sentra kuliner lainnya ialah dermaga point yang merupakan pelabuhan di erat KBK. Dermaga berlantai dua ini diisi sejumlah tenant yang menjual aneka franchise food mulai dari ayam goreng, donut, roti, pizza serta yang lain.

Karena menjadi tempat keluar masuknya kapal yang oleh warga Palembang disebut Ketek, wisatawan yang ingin berkeliling Sungai Musi, harus terlebih dahulu menuju ke dermaga point. Itu sebabnya tempat ini menjadi favorit belum dewasa muda untuk nongkrong dan melihat para penumpang yang keluar masuk kapal.

foto by instagram.com/hernawatikinanti

Bagi yang ingin bersantap dengan suasana berbeda, restoran terapung “River Side” bisa menjadi pilihan. Lezatnya kuliner ditambah romantisnya suasana yang dihadirkan Sungai Musi di sekeliling restoran, membuat Riverside sangat pas untuk dijadikan daerah bersantap pasangan yang sedang dimabuk asmara.

Terlebih pada malam hari. Suasana romantis tersebut semakin terasa lewat kerlap-kerlip lampu kapal di kejauhan yang menyerupai kerlap-kerlip lilin.

Semakin malam, suasana yang menyelimuti Plaza KBK memang semakin menghanyutkan. Gemerlap lampu taman, gedung-gedung di kejauhan, lampu yang menghiasi Jembatan Ampera serta lampu dari kapal-kapal yang berlalu lalang di tengah Sungai Musi terlihat semakin indah dikala dipantulkan oleh air sungai.

Suasana yang sangat romantis tersebut akan lebih terasa bila dinikmati di atas permukaan air dengan menyewa kapal dari para nelayan.

Dengan harga sewa sebesar Rp.50.000 pengunjung sudah mampu berkeliling Sungai Musi dengan menggunakan kapal. Bagi yang tiba bersama rombongan, ongkos sewa tersebut mampu ditanggung bersama, karena kapasitas kapal dapat menampung hingga 10 orang.

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni