Gua Telapak Tangan, Bunyi Peradaban Dari Era 12.000 Tahun Lampau

Gua Telapak Tangan di dalam kompleks Karst Sangkulirang-Mangkalihat, memancarkan pesona Purba. Gua dengan lukisan telapak tangan peninggalan dari periode tahun 10.000 SM telah menjadi situs bersejarah yang popular di dunia Internasional.

Gua Telapak Tangan di dalam kompleks Karst Sangkulirang-Mangkalihat, memancarkan pesona Purba. Goa dengan lukisan telapak tangan peninggalan dari masa tahun 10.000 SM telah menjadi situs bersejarah yang popular di dunia Internasional.
Gua Telapak Tangan, Image via: bontangpost.id

Tak sedikit turis ajaib yang tiba hanya untuk menikmati keindahan lukisan tapak tangan di sepanjang dinding Gua Telapak Tangan.

Tidak hanya sebuah situs sejarah, jajaran gunung karst yang berbaris di sepanjang Kecamatan Sangkulirang hingga Sandaran, juga bisa menjadi tempat olahraga yang menguras adrenalin. Juga termasukobjek wisata pendidikan dan lokasi wisata alam yang indah.

Dalam waktu tertentu, komunitas panjat tebing menggelar pelatihan di tempat karst tersebut.

Situs sejarah daerah Karst Sangkulirang Mangkalihat mempunyai hamparan seluas 2.145.301 ha dari Kabupaten Berau sampai Kabupaten Kutai Timur. Selain gambaran telapak tangan, ada juga beberapa peninggalan sejarah pada dinding puluhan gua dan lorong panjang di dalamnya.

Semua peninggalan kuno di Gua Telapak Tangan itu diperkirakan merupakan awal penyebaran rumpun manusia purba Austronesia. Artinya, Karst Sangkulirang Mangkalihat menjadi titik awal kemunculan insan purba yang ada di bumi pertiwi.

Selain gambaran telapak tangan, ada juga beberapa peninggalan sejarah pada dinding puluhan gua dan lorong panjang di dalamnya.
Bagian Lain Gua. Image via: itb.ac.id

Simak juga:Ragam Wisata di Kalimantan Timur

Lokasi Gua Telapak Tangan

Gua Telapak Tangan atau Tewet, terletak di dalam hutan wilayah Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Tepatnya di deretan gunung atau Goa Karst terdapat beberapa goa. Di antaranya Goa Tewet yang belum sepenuhnya dieksplor oleh peneliti.

Goa yang mempunyai jejak telapak tangan, terletak di dalam daerah pegunungan Marang, di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kaltim.

Rute Menuju Gua Telapak Tangan

Untuk bisa menuju Goa Tewet atau Gua Telapak Tangan, diperlukan waktu sekitar dua hari. Dari Ibukota Provinsi Kaltim, Kota Samarinda, menuju Kabupaten Kutai Timur ke Sangatta, harus ditempuh sekitar 6 jam perjalanan darat.

Perjalanan dilanjutkan ke Desa Sepaso, Kecamatan Bengalon. Kendaraan yang digunakan hanya dengan ketinting. Perahu yang memakai mesin dinamo mengandalkan bahan bakar minyak atau disebut motorist, untuk mampu tembus ke Goa Tewet.

Perjalanan dilanjutkan ke Desa Sepaso, Kecamatan Bengalon. Kendaraan yang digunakan hanya dengan ketinting. Perahu yang menggunakan mesin dinamo mengandalkan bahan bakar minyak atau disebut motorist, untuk bisa tembus ke Goa Tewet.
Berperahu menuju Gua. Image via: geomagz.geologi.esdm.go.id

Tanpa epilog ketingting, perahu yang mempunyai panjang tiga meter, membelah Sungai Bengalon yang berwarna coklat dan berkelok kelok. Di sepanjang Sungai Bengalon, terlihat buaya dengan ukuran sekitar 3-4 meter sedang berjemur diatas kerikil. Ini menciptakan perasaan menjadi ciut, selama lima jam duduk bersila di atas ketingting

Dari Batu Ampur, perjalanan menempuh waktu 4 jam lamanya. Mendekati lokasi yang dituju. Rombongan berjalan menanjak keatas setinggi sekitar 150 meter. Pengunjung harusmengenakan tali clambing menuju muara Goa Tewet selama dua jam. Setelah dua jam, sampailah Gua Tewet.

Jam Buka Gua Telapak Tangan

Gua telapak tangan Di Kalimantan ini pada dasarnya buka 24 jam. Namun karena medan yang ekstrim, sangat tidak disarankan berkunjung dikala hari gelap.

Lukisan telapak tangan berdekatan yang mungkinmemeilki sebuah makna tertentu yang belum sepenuhnya dipahami
Kami di sini Sebelum Anda. Image via: itb.ac.id

Simak juga: Pantai Asmoro, raja ampatnya Malang

Tiket Gua Telapak Tangan

Mengenai tiket kunjungan, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk. Alias Gratis

Fasilitas Gua Telapak Tangan

Ada dua tebing karst menjulang keatas dengan ketinggian sekitar 100 meter dari atas permukaan laut. Saat di goa, beberapa akomodasi penunjang berupa tangga dan pembatas jalan terbuat dari kayu sepanjang 50 meter naik ke goa, sudah dibentuk untuk memudahkan pengunjung.

Sementara Lembaga Pertahanan Adat Dayak Basaf (LPADB) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dengan pertolongan mitra stakeholder juga membangun anak tangga untuk masuk ke punggung goa dan juga ada 4  MCK tersedia.

Daya Tarik Gua Telapak Tangan

  1. Lingkungan yang Menarik

Sebagai lokasi wisata, mereka yang berkunjung ke kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat akan disuguhkan pemandangan ornamen alami berupa stalagtit dan stalagmit mengagumkan.
Lingkungan yang menawan. Image via: telusuri.id

Sebagai lokasi wisata pendidikan, karst memiliki bidang plaeontologi, arkeologi, situs fosil, struktur geologi-mineral, litologi, serta beragamnya flora dan fauna endemik. Keberadaan gua-gua, sungai bawah laut, cadangan kerikil kapur dan bahan semen pun cukup melimpah.

Sebagai lokasi wisata, mereka yang berkunjung ke tempat Karst Sangkulirang-Mangkalihat akan disuguhkan pemandangan ornamen alami berupa stalagtit dan stalagmit mengagumkan. Ada pula jajaran flowstone yang memancarkan sinar Kristal kalsit memukau mata.

Menjelajahi goa bawah tanah di sepanjang pegunungan karst juga menjadi tantangan tersendiri. Karena setiap spot mempunyai ketinggian air yang berbeda. Karts Sangkulirang-Mangkalihat juga memiliki potensi sungai bawah tanah yang bisa dimanfaatkan. Selain potensi alam yang mampu meningkatkan nilai ekonomi, seperti hutan kayu dan non kayu, batuan mineral, potensi wisata alam, serta sarang burung walet yang cukup menjanjikan.

  1. Lukisan Telapak Tangan

Kumpulan lukisan di gua telapak tangan yang Berbentuk Pohon Kehidupan
Berbentuk Pohon Kehidupan. Image via: geomagz.geologi.esdm.go.id

Simak juga: Berburu foto selfie di Jembatan SAwah Sukorame

Sinar matahari cukup menerangi ruangan gua. Setelah berjalan sepuluh langkah masuk ke gua, sempurna di dinding cadas setinggi sekitar 4,8 meter, tampak gambar telapak tangan berwarna merah kehitaman. Ukurannya hampir sama dengan telapak tangan manusia pada umumnya, panjangnya sekitar 20 sentimeter dan lebar kira-kira 13 sentimeter.

Berjalan menanjak ke sekitar dua meter lagi, jumlah gambar telapak tangan semakin banyak di dinding-dinding gua yang jaraknya hanya beberapa sentimeter di atas kepala.

Pada dinding-dinding ruangan Gua Tewet seluas sekitar 137,76 meter persegi itu terdapat lebih dari 50 gambar cadas purba yang kondisinya masih anggun. Sebagian besar berupa gambar telapak tangan dan binatang mirip rusa.

Keberadaan gambar cadas di gua yang berada di Gunung Gergaji itu sebenarnya sudah diketahui penduduk setempat puluhan tahun silam. Namun hal itu gres terekspos ke publik pada sekitar 1994, dikala serombongan peneliti Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, menelitinya.

  1. Selain Lukisan Tangan

Selain lukisan telapak tanga, dinding gua telapak tangan juga berisi lukisan rusa, lebah dan tokek
Rusa. Image via: itb.ac.id

Selain di Gua Tewet, gambar-gambar cadas itu terdapat di Gua Karim, yang masih dalam satu daerah.Lebar mulut Gua Karim mencapai 45 meter, lorong terdalam lebarnya 19 meter, dinding langit gua mencapai 6,4 meter, dan luas ruangan menyeluruh, termasuk di sekitar ceruk tebing, mencapai 582,15 meter persegi.

Meski lebih sedikit ketimbang Gua Tewet, boleh dibilang gambar cadas di gua itu lebih variatif. Bukan hanya gambar cadas telapak tangan, tapi juga terdapat gambar binatang khas endemis Kalimantan Timur, adalah tapir dan rusa. Ada juga gambar sarang lebah dan pepohonan.

Salah satu gambar tapir berwarna merah kecokelatan di Gua Karim panjangnya mencapai 1 meter dan tinggi 55 sentimeter. Gambar sarang lebah cukup mencolok. Jumlahnya 10 gambar. Satu gambar sarang lebah paling besar tingginya sekitar 1,3 meter dan lebarnya mencapai 1 meter.

Gambar itu berdampingan dengan 9 gambar sarang lebah lainnya yang ukurannya bervariasi.

  1. Sejarah lukisan Tangan

Gambar Tangan tokek dalam 1 formasi diperkirakana dalah gambar yang melambangkan leluhur
Tangan dan Leluhur. Image via: geomagz.geologi.esdm.go.id

Simak juga: Pesona Si Kembang di Dalam Hutan Pinus

Menurut para ilmuan, gambar-gambar cadas di tempat Sangkulirang-Mangkalihat diperkirakan dibentuk oleh bangsa Pra-Austronesia yang hidup pada Zaman Es. Yakni 40.000-10.000 sebelum Masehi. Mereka merupakan kaum pemburu awal dan lanjut.

Bangsa Pra-Austronesia itu, melaksanakan perjalanan dari wilayah utara (Taiwan) ke selatan, dan akibatnya sampai di Sangkulirang. Para pembuat gambar cadas itu datang lebih dulu daripada bangsa Austronesia, yang juga merupakan nenek moyang kebanyakan orang Dayak yang ada kini.

Selain teori umum diterima soal usia 10.000 SM, ada sedikit keraguan soal itu. Di sini ditemukan pula gambar trenggiling, namun bentuknya sedikit berbeda. Ternyata hewan itu merupakan trenggiling raksasa yang sudah punah di Indonesia 30.000 tahun kemudian.

Bahan dan metode pembuatan gambar cadas dilokasi ini diprediksi masih serupa di semua lokasi eksistensi karya seni insan purba di daerah lainnya di Indonesia. Tradisi gambar cadas tersebar di berbagai situs prasejarah di Indonesia, terutama di bab timur. Selain di Kutai Timur, beberapa gambar yang sudah diidentifikasi antara lain di daerah Sulawesi Selatan, yaitu Maros, Pangkep, Bone, dan Danau Towuti.

Membaca Pesan dari 12 ribu tahun lampau.
Pesan dari 12 ribu tahun lampau. Image via: bontangpost.id

Aturan Mengunjungi Gua Telapak Tangan

Bagi para wisatawan yang akan berkunjung ke Gua Telapak Tangan ada sejumlah aturan yang harus ditaati sebelum masuk goa. Baik itu aturan yang bersumber dari kearifan etika lokal, maupun hukum berbasis pemahaman ilmiah.

Pengunjung dihentikan teriak-teriak. Menurut kearifan lokal atau mitologi setempat, jikalau hal ini dilanggar mampu berakibat fatal karena nanti ada teguran dari penunggu goa. Konon pernah ada kunjungan wisata mahasiswa mengalami kesurupan.

Tidak hanya soal teriak, pengunjung juga dilarang berbohong dan mengucapkan kata-kata kotor selama berada di goa.

Ada juga ketentuan soal mengucapkan salam dikala memasuki lokasi goa. Sebagai tanda masuk penghormatan kepada leluhur, setiap pengunjung diberikan gelang dan kalung yang terbuat dari akar flora yang didapatkan di sekitar pegunungan karst.

Sedangkan aturan yang berbasis pemahaman ilmiah, yakni dihentikan memegang jejak tangan yang berada di dinding. Hal itu alasannya telapak tangan insan ada unsur garam yang mampu menggerus/merusak lukisan tapak tangan di dinding gua tersebut.

Panorama sekitar Gua telapak tangan.
Panorama sekitar. Image via: flores-borneo

SImak Juga: Jembatan Laut Pantai Ngurtafur

Objek Wisata Dekat Gua Telapak Tangan

Walau populer dengan Hutan belantaranya, Kutai timur ternyata juga memiliki pantai yang tak kalah indahnya. Salah satunya ialah Pantai Teluk Lombok. Pemandangan pantai dan laut yang indah yakni daya tarik utama dari daerah wisata ini. Lokasinya yang hanya berjarak sekitar 15 k, dari kota kecamatan Sangatta, menciptakan pantai ini tidak pernah sepi pengunjung.

Bukan hanya pantai, dan goa saja, Kabupaten Kutai Timur juga mempunyai tempat wisata alam berupa jeram, yang juga patut dipertimbangkan untuk dikunjungi wisatawan, adalah Air Terjun Batu Lapis. Sesuai dengan namanya, gerojokan setinggi kurang lebih 7 meter ini mengalir di dinding watu yang berlapis-lapis. Lokasinya berada di Desa Kaliorang, Kecamatan Kaliorang.

Nah buat rekan-rekan penyuka wisata Sejarah dan arkeologi, khususnya sejarah purba, ini yaitu lokasi tepat. Selain ke Sangiran anda kini punya lokasi lainnya untuk didatangi.

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni