Gunung Batu Jonggol

class=”kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left “
data-id=”4442″
data-slug=””>

3.9
/
5
(
36

votes

)

Lokasi: Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kota Bogor, Jawa Barat

Map: Klik Disini

HTM: Rp.15.000 (Sudah Termasuk Ongkos Parkir)

Buka: 24 Jam

Gunung di Jawa Barat

Karena lokasinya yang tidak dilewati sarana transportasi umum, nama Gunung Batu Jonggol kurang begitu dikenal oleh masyarakat. Terlebih objek wisata adventure ini terpisah dari kawasan wisata lainnya yang bertebaran di Bogor.

Namun, bagi para pendaki dan anggota komunitas pecinta alam yang ada di Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi dan sekitarnya, bukit ini cukup bersahabat di indera pendengaran mereka karena medannya yang pas untuk para pendaki pemula.

Itu sebabnya bukit ini kerap digunakan sebagai tempat training bagi anggota baru dan lokasi warming up bagi para pendaki senior sebelum mendaki gunung-gunung yang lebih tinggi.

Bahkan, tidak hanya para pendaki dan komunitas pecinta alam saja yang menimbulkan Gunung Batu Jonggol sebagai kawasan favorit untuk fun hiking, tapi juga belum dewasa muda yang ingin menikmati liburan dengan sensasi yang berbeda.

Sebagian dari pengunjung yang bukan pendaki dan bukan anggota dari komunitas pecinta alam tersebut ada yang menginap bersama rombongan di area camping ground, sebagian ada yang tertantang untuk hingga di puncak, namun sebagian besar hanya melaksanakan tracking di kaki bukit.

Mereka yang melakukan tracking tersebut sebagian ada yang hanya ingin bersenang-bahagia dengan sahabat-temannya, sebagian lagi mencari suasana romantis dengan kekasihnya, dan yang tidak pernah ketinggalan yaitu mencari background foto, alasannya mulai dari area parkir yang dilengkapi taman hingga dengan kaki bukit, banyak dijumpai spot-spot menarik untuk diabadikan dalam bahasa gambar.

Dengan banyaknya aktifitas yang mampu dilakukan, disamping aktifitas utama melakukan pendakian, membuat Gunung Batu Jonggol banyak dikunjungi para wisatawan, utamanya anak-anak muda yang mempunyai hoby bertualang.

Mengenal Sekilas

Meski menerima sebutan “Gunung”, ketinggian Gunung Batu Jonggol bahwasanya hanya 875 meter di atas permukaan maritim atau 2.871 kaki, sehingga lebih tepat disebut bukit.

Namun alasannya adalah sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia yang selalu menyebut segala sesuatu yang memiliki puncak dengan sebutan gunung, membuat bukit yang berada pada titik koordinat 6°36’12″S 107°3’8″E ini disebut Gunung Batu Jonggol.

Tidak seperti kawasan hiking lainnya yang selalu berbalut dengan mitos dan dongeng-kisah misteri, Gunung Batu Jonggol jauh dari kesan gaib dan hal-hal yang berbau supranatural.

Trek yang dimilikinya memang cukup menantang, namun tidak terlalu ekstrim, sehingga sangat cocok bagi para pendaki pemula. Meski begitu, para pendaki wajib untuk selalu bersikap hati-hati dan waspada serta menghindari cuaca jelek selama pendakian, alasannya adalah Gunung Batu Jonggol telah memakan korban.

Peristiwa tersebut terjadi 3 Mei 2015 bertepatan dengan isu terkini hujan, dimana kondisi medan di daerah bukit ini sangat licin. Seorang pendaki dari Cilengsi berjulukan Andri Cahya Nugraha (23 tahun) yang akan menuju ke puncak Gunung Batu Jonggol harus meregang nyawa sebab terpeleset dan jatuh ke jurang.

Tempat jatuhnya korban tersebut, sekarang diberi semacam prasasti untuk mengenang korban sekaligus untuk mengingatkan para pendaki yang lain semoga senantiasa berhati-hati saat berada di lokasi pendakian.

Mengingatkan para pendaki agar selalu bersikap hati-hati dan waspada tersebut tidak hanya untuk keselamatan para pendaki sendiri, tapi juga untuk mencegah rusaknya lingkungan.

Sebab pada tanggal 25 Juli-2020 yang lalu, Gunung Batu Jonggol sempat mengalami kebakaran. Meski penyebab dari tempat pendakian dan kebun sawit yang kebakar tidak diketahui secara niscaya, namun ada kemungkinan karena ulah para pendaki yang bersikap sembrono.

Akibat peristiwa kebakaran tersebut, daerah wisata adventure ini untuk sementara waktu ditutup sebelum alhasil dibuka kembali untuk umum.

Kawasan Perkampungan Dilihat dari Atas (foto: ardiyanta.com)

Informasi lainnya seputar Gunung Batu Jonggol yang kerap menghiasi media massa dan media online yaitu dibentangkannya bendera merah putih berukuran raksasa oleh kelompok pecinta alam setiap tanggal 17 Agustus untuk memperingati HUT kemerdekaan RI.

Berita yang cukup menyita perhatian publik tersebut sedikit banyak turut mengundang para wisatawan untuk tiba berkunjung.

Sayangnya, meski daerah ini banyak didatangi pengunjung dan cukup ideal untuk dijadikan resort, namun masih dikelola secara tradisional oleh masyarakat setempat. Itu sebabnya, jangan berharap banyak saat berkunjung ke lokasi, alasannya fasilitas umum yang tersedia hanya area parkir dan beberapa warung yang menjual kuliner dan minuman sederhana.

Tidak ada kemudahan lain, apalagi penginapan semacam hotel dan villa. Jadi, bagi pengunjung yang ingin menginap untuk mampu menikmati sunrise, satu-satunya cara yang dapat dilakukan ialah dengan mendirikan tenda di 3 lokasi camping ground yang tersedia.

Rute Menuju Lokasi

Entah mengapa dan bagaimana sejarah yang melatarbelakangi sehingga bukit watu setinggi 875 mdpl ini dinamakan Gunung Batu Jonggol. Padahal lokasinya cukup jauh dari Kota Jonggol, alasannya adalah secara administratif alamat dari bukit ini berada di Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kota Bogor, Jawa Barat.

Untuk menuju ke lokasi hanya dapat dilakukan dengan naik kendaraan eksklusif, karena meski Bogor dikenal dengan sebutan “Kota Seribu Angkot”, namun tidak ada satupun angkot dan sarana transportasi umum lainnya yang mempunyai rute menuju ke lokasi atau melewati kawasan yang erat dengan objek pendakian ini.

Perjalanan memakai kendaraan eksklusif dari Kota Bogor mampu dilakukan dengan melewati Sentul dan menyusuri pinggir jalan tol yang menuju ke arah utara. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, Anda akan sampai di tempat Sukahati.

Di sini kendaraan harus berbelok ke kanan dan terus lurus mengikuti jalan yang kondisinya cukup memprihatinkan alasannya adalah aspal yang melapisi sudah banyak yang rusak dan berlubang.

Area Parkir (foto: ranselmerahkucel.blogspot.co.id)

Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam dari Kota Bogor, akan Anda temukan sebuah pertigaan yang terpasang papan petunjuk arah yang memberitahukan bila berjalan lurus akan sampai di Kota Jonggol dan jika berbelok ke kanan menuju ke Gunung Batu. Ambil susukan jalan yang menuju Gunung Batu dan tidak usang kemudian Anda akan datang di lokasi.

Jalur lain yakni melalui Cibinong menuju Citeureup, dilanjutkan ke arah Tajur dan Sukamakmur hingga tiba di Gunung Batu. Cara berikutnya untuk menuju Gunung Batu Jonggol ialah via Cibubur.

Jika rute ini yang dipilih, maka Anda akan melewati Taman Mekarsari Cileungsi, berlanjut ke Perumahan Citra Indah serta pertigaan Jonggol Cariu sebelum kesudahannya datang di objek wisata yang dituju. Masih bingung dengan 3 rute yang mampu dilewati dan takut tersesat? Jangan khawatir selama masih menggenggam smartphone dan mengaktifkan fitur google map.

Satu hal yang harus diperhatikan ketika menuju ke lokasi adalah kondisi jalan yang rusak, beberapa ratus meter dari pelataran parkir. Untuk itu Anda harus berhati-hati dalam berkendara alasannya adalah medan yang dilalui cukup terjal dan dibentuk dari belahan kerikil kali yang menutupi hampir separuh badan jalan.

Sedang separuhnya berupa tanah merah yang licin pada dikala hujan. Itu sebabnya pada musim hujan, pengunjung yang melewati jalan menuju area parkir ini banyak yang lebih menentukan turun dan menuntun motor yang mereka bawa.

Sesampai di area parkir, Anda mampu menitipkan kendaraan dengan membayar sebesar Rp.15.000. Tarif tersebut sudah termasuk harga tiket masuk. Pengunjung dapat menitipkan dan mengambil kendaraannya kapanpun, alasannya adalah area parkir ini buka 1 x 24 jam.

Bertualang

gambar by @ristaniaa_

Sebelum mengawali petualangan ke Gunung Batu Jonggol, pastikan fisik Anda benar-benar prima, hitung estimasi waktu dari berangkat sampai turun dengan anutan untuk mencapai puncak butuh waktu sekitar 1,5 jam bila berangkat dari area parkir, dan periksa perbekalan.

Bagi pengunjung yang tidak membawa perbekalan mampu membelinya di warung dan kios yang ada di sekitar area parkir.

Rute pertama yang harus dilewati berupa jalan setapak berlapis tanah merah yang di kanan kirinya diapit oleh pepohonan dengan batang yang tidak terlalu besar, rerumputan dan beberapa jenis flora bunga yang tampak indah pada saat berkembang.

Pada demam isu kemarau rute ini berdebu sehingga butuh masker untuk melindungi pernafasan dari bubuk, kecuali bagi mereka yang sudah terbiasa dengan lingkungan berdebu.

Kondisi tersebut berubah 180O pada isu terkini penghujan, dimana udara sekeliling terasa bersih dan segar, namun jalan yang harus dilalui bermetamorfosis licin.

Karena itulah pada sebatang pohon dipasang sebuah plang bertuliskan “ tetap FOKUS” karena jika kehilangan fokus dikala berjalan di isu terkini hujan, bukan mustahil akan menginjak bagian tanah yang licin dan terpeleset. Terlebih pada waktu akan naik ke tanjakan.

Tidak berapa lama sesudah melewati jalur yang licin, akan dijumpai salah satu dari tiga area camping ground yang biasa disebut shelter II. Dua area camping yang lain berada di bawah, yakni di akrab rawa-rawa kecil dan di ladang warga yang erat dengan jalur pendakian.

Shelter II areanya cukup luas yang mampu menampung sekitar 10 – 11 tenda. Di sini juga terdapat beberapa batang pohon yang tumbuh saling berdekatan sehingga dapat dipasang hammock untuk beristirahat.

Semakin bersahabat ke arah puncak, jalan yang dilalui cenderung berupa batuan. Mungkin alasannya adalah itu sehingga bukit ini dinamakan “Gunung Batu” Jonggol.

Selain itu, track yang harus dilewati juga semakin banyak tanjakan yang mengharuskan pendaki berjalan miring bahkan butuh peralatan webbing untuk mampu melaluinya. Webbing tersebut sudah tersedia di daerah pendakian, sehingga tidak perlu masuk dalam daftar perbekalan yang harus dibawa.

Mendaki (foto: akusangpejalan.blogspot.co.id)

Webbing pertama terpasang pada tanjakan agak landai, yang bisa diabaikan jikalau cukup besar lengan berkuasa berjalan dengan posisi badan yang miring tanpa harus berpegangan pada peralatan webbing. Pada tanjakan kedua, memaksa siapapun untuk memanfaatkan tali webbing sebab sudut tanjakan sekitar 30O.

Bagi mereka yang pertama kali mendaki bukit ini, setelah melewati tanjakan kedua dan menemukan trek bebatuan cadas, akan merasa sudah hingga di puncak. Padahal masih belum karena yang dicapai baru puncak bayangan dan masih banyak lagi tanjakan-tanjakan berikutnya setelah memperhatikan sisi sebelah timur.

Gunung Batu Jonggol ini memang tidak berbeda jauh dengan Gunung Sindoro yang mempunyai beberapa puncak bayangan dan kerap menipu mereka yang baru merasakan kedua gunung tersebut.

Satu hal yang perlu diketahui, pendakian menuju ke puncak Gunung Batu Jonggol tidak hanya dilakukan pada pagi, siang dan sore hari, tapi banyak pendaki yang melakukannya pada malam hari. Sehingga selama perjalanan ke atas ataupun turun, Anda akan berpapasan dengan satu, dua atau lebih rombongan pendaki.

Banyak alasan yang melatarbelakangi pendakian pada malam hari, ada yang sebab ingin menikmati sensasi pendakian yang berbeda, ada yang alasannya adalah ingin menikmati romantisme malam di puncak gunung, ada juga yang ingin menjemput sunrise di puncak.

Para pendaki itupun tidak hanya mereka yang sudah bersahabat dengan pendakian, tapi cukup banyak para pendaki pemula serta mereka yang mendaki bukit sebab alasan yang lain. Meski alasan masing-masing pendaki berbeda, namun ada hal sama yang mereka lakukan yaitu melengkapi perjalanan dengan lampu senter dan headlamp untuk menerangi jalan yang dilalui.

Papan Peringatan (foto: ahmadpajalibinzah.com)

Untuk membedakan para pendaki yang sudah akrab dengan aktifitas hiking dengan para pendaki pemula serta mereka yang hanya coba-coba, mampu dilihat dari raut wajah mereka. Bagi mereka yang sudah terbiasa mendaki, selain terlihat menikmati perjalanan, pada ketika bertemu dengan rombongan pendaki lain biasanya akan saling bertegur sapa bahkan bersendagurau.

Sementara pendaki pemula, apalagi yang hanya coba-coba, di sepanjang perjalanan wajah mereka akan terlihat tegang dengan verbal yang tetap diam pada saat disapa oleh rombongan pendaki lain.

Tanjakan ketiga yang harus dilalui pendaki yang ingin hingga ke puncak, jaraknya cukup panjang, sehingga mau tidak mau para pendaki harus mempergunakan sarung tangan untuk berpegangan pada tali webbing, semoga kulit telapak tangan tidak lecet atau melepuh.

Sejak tanjakan ketiga dan seterusnya, sampai tanjakan terakhir yang menuju ke puncak, bentuknya sudah berupa bebatuan seperti halnya jalur kerikil yang ada di Gunung Parang, Purwakarta atau Gunung Merapi yang ada di Jawa Tengah.

Tanjakan-tanjakan tersebut hampir semuanya terjal dengan sudut kemiringan rata-rata di atas 30O, yang memaksa pendaki untuk berjalan miring dan merangkak serta bergelantungan pada tali webbing.

Pada tanjakan terakhir yang menuju ke puncak, para pendaki terkadang harus antri dengan rombongan pendaki lain yang juga ingin ke daerah yang sama, terlebih pada demam isu liburan.

Untuk menuju ke puncak, tanjakan yang harus dilalui terbilang ekstrim, alasannya adalah batu-batu yang dijadikan pijakan seolah terlihat rapuh dan gampang longsor dikala dipijak. Padahal bebatuan tersebut melekat akrab dan siap menahan beban tubuh pendaki, seberat apapun.

Tantangan yang harus dilalui dengan bantuan tali webbing tersebut terbayar lunas begitu hingga di puncak Gunung Batu Jonggol yang ditandai dengan patok berhiaskan bendera merah putih yang tidak pernah berhenti berkibar karena selalu tertiup oleh kencangnya angin pegunungan.

Di puncak bukit ini pada pagi – sore pemandangannya begitu menawan dengan latar belakang Gunung Gede Pangrango serta bebukitan yang berbaris di kejauhan. Hamparan wilayah Jonggol, Cianjur sampai dengan Purwakarta juga menghadirkan landscape indah yang menarik untuk diabadikan dengan memakai lensa kamera.

Menuju Puncak (foto: akusangpejalan.blogspot.co.id)

Pada malam hari, keindahan alam yang menakjubkan tersebut memang tidak dapat dinikmati. Sebagai gantinya, akan tersaji gemerlap lampu kota dan kerlap-kerlip lampu kendaraan di kejauhan yang berpadu dengan bintang-bintang di angkasa.

Pemandangan alam tersebut akan menggetarkan hati siapapun serta membuatnya tertunduk akan kebesaran Sang Pencipta Alam.

Berada di puncak Gunung Batu Jonggol merupakan ketika yang sempurna untuk menjelajah dan mencari spot-spot bagus untuk dijadikan latar belakang foto.

Namun, Anda tetap harus berhati-hati, alasannya adalah dataran di bab puncak tidak seberapa luas dengan tanah dan bebatuan yang licin. Jika hingga jatuh terpeleset, jurang mengangah yang ada di sekeliling mampu merenggut nyawa siapapun tanpa ampun!

Setelah puas menikmati keindahan puncak Gunung Batu Jonggol, para pendaki mampu kembali turun. Tidak berbeda jauh dengan saat mendaki, pada saat turun tantangan yang dihadapi juga tidak kalah berat, mengingat medan yang harus dilalui terbilang ekstrim, utamanya rute antara shelter II hingga puncak.

Begitu tiba di shelter II, perjalanan turun relatif ringan, bahkan mampu dilakukan dengan setengah berlari, dan hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk mampu sampai ke area parkir.

Setelah mengambil motor di daerah parkir dan meninggalkan tempat Gunung Batu Jonggol, jangan terburu-buru untuk pulang, alasannya adalah masih ada satu lagi objek menarik yang harus dikunjungi, yakni Curug Cibengang.

Wisata riam ini hanya berjarak sekitar 2 km dari tempat Gunung Batu yang mampu ditempuh dengan menggunakan motor selama kurang lebih 10 menit.

Curug ini lokasinya agak tersembunyi sehingga suasana di sekelilingnya masih terkesan alami. Untuk mencapainya, Anda harus terlebih dahulu menitipkan kendaraan, dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyeberangi sungai, melewati hamparan sawah dan kembali melintasi sungai yang berada di tengah area hutan.

Puncak Utama, Photo By : @indrasutantoo

Meski perjalanan yang harus ditempuh cukup sulit, namun keindahan pemandangan di sepanjang jalan yang dilalui akan senantiasa memanjakan mata. Terlebih jika sudah sampai di lokasi air terjun. Curug Cibengang yang jarang didatangi wisatawan tersebut bagai lukisan alam yang begitu indah untuk dipandang.

Tidak hanya keindahannya saja yang dapat dinikmati, tapi juga airnya yang segar dan jernih. Nikmati segarnya jeram tersebut dengan mandi dan berkubang di cerukan yang ada di bawah fatwa riam. Sesekali Anda juga dapat meneguk airnya yang jernih, sebab segarnya melebihi air yang tersimpan di dalam almari es.

Tips Berkunjung

Menikmati wisata adventure berbeda dengan berkunjung ke theme park, bak renang dan taman-taman rekreasi.

Jika berkunjung ke kawasan rekreasi modal utamanya adalah anggaran yang cukup, sedang untuk wisata adventure butuh persiapan yang lebih matang, mulai dari perbekalan, peralatan yang memadai, fisik yang prima, pengetahuan tentang medan dan sebagainya, termasuk nyali yang besar.

Karena itu, sebelum melaksanakan pendakian ke Gunung Batu Jonggol, tips berikut ini perlu perhatikan.

1. Patikan terlebih dahulu tujuan dari kunjungan Anda ke Gunung Batu Jonggol, apakah hanya sekedar ingin gowes atau jalan-jalan untuk melihat situasi di tempat sekitar area wisata, melakukan tracking ringan di bagian dasar, melakukan pendakian sampai ke puncak atau bermalam dengan mendirikan tenda di camping ground. Memastikan tujuan berkunjung erat kaitannya dengan kondisi fisik dan perbekalan yang harus dibawa.

2. Jangan melakukan perjalanan menuju lokasi pada malam hari, karena berdasarkan berita dari masyarakat setempat, terkadang masih ada begal yang menghadang di tengah jalan. Jika ingin melakukan pendakian pada malam hari, sebaiknya sudah datang di area parkir sebelum maghrib untuk menghindari risiko di perjalanan, baik dari hadangan begal maupun dari buruknya medan di sepanjang perjalanan.

3. Jika Anda melakukan kunjungan pada isu terkini kemarau, usahakan untuk membawa masker, alasannya sebagian rute yang harus dilalui berdebu. Sedang untuk yang berkunjung pada demam isu penghujan, sebaiknya membawa sepatu trekking sebab jalan yang dilalui cukup licin.

Salah Satu Sudut Lain (foto: ardiyanta.com)

4. Bagi yang ingin bermalam, kawasan camp yang paling baik yakni di akrab jalur pendakian (ladang milik warga), sebab lebih akrab dengan pemukiman. Namun kalau ingin cepat sampai ke puncak mampu memilih shelter II karena untuk hingga ke puncak hanya butuh waktu sekitar 15 menit, sementara untuk yang berangkat dari bawah butuh waktu sekitar 1 – 1,5 jam.

5. Untuk yang ngechamp di Shelter II, wajib membawa air yang cukup dari tempat pemukiman warga, alasannya di sepanjang jalur pendakian tidak terdapat mata air. Sedang bagi mereka yang mendaki dengan sistem tek-tok, cukup berbekal air minum 1 botol besar per dua orang, alasannya adalah waktu tempuh perjalanan yang relatif sebentar.

6. Pendakian yang dilakukan pada malam hari, selain harus membawa senter dan headlamp, sebaiknya juga membawa lotion anti nyamuk, alasannya adalah di sepanjang perjalanan hingga di puncak, banyak ditemui serangga kecil yang disebut krongo. Serangga tersebut memang tidak menggigit, namun sangat mengganggu.

7. Waktu terbaik untuk melaksanakan summit attack bagi yang ngechamp di Shelter II sekitar jam 04.00 WIB, dan untuk yang bermalam di ladang milik warga sekitar jam 03.00 WIB supaya tidak tertinggal indahnya view sunrise dari puncak Gunung Batu Jonggol.

8. Setelah melewati shelter II, pendakian harus dilakukan dengan lebih berhati-hati disebabkan alasannya adalah kemungkinan adanya antrean panjang menuju puncak serta banyaknya jalur ekstrim yang harus dilalui.

9. Jika sudah hingga di puncak, perhatikan apakah ada rombongan pendaki lain yang juga ingin menuju ke daerah yang sama. Jika antrean pendaki yang ingin ke puncak cukup panjang, usahakan untuk tidak terlalu lama berada di puncak, alasannya adalah areanya cukup sempit dengan daya tampung yang terbatas dan di sekelilingnya berupa jurang dalam yang membentang.

10. Tips terakhir mengutip ungkapan yang selalu dipegang oleh para pecinta alam, yakni “Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali foto dan jangan membunuh apapun kecuali waktu”.

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni