Indahnya Menikmati Sore Hari Di Waduk Dawuhan Madiun

class=”kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left “
data-id=”16109″
data-slug=””>

5
/
5
(
3

votes

)

Lokasi: Desa Sidomulyo, Kec. Wonoasri, Kab. Madiun, Jawa Timur

Map: Klik Disini

Buka: 24 Jam

Waduk di Madiun

Madiun memiliki jumlah waduk cukup banyak yang juga berfungsi sebagai daerah wisata seperti Waduk Notopuro (Desa Duren, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun), Waduk Kedungbrubus (Desa Bulu, Kecamatan Pilangkenceng).

Kemudian Waduk Saradan (Bening) (Desa Pajaran, Kecamatan Saradan), Waduk Ngebel (UPT Pengairan wilayah Kec. Dolopo) dan Waduk Dawuhan (Desa Plumpungrejo, Kecamatan Wonoasri). Waduk yang dibahas lebih terang kali ini yakni Waduk Dawuhan.

Daya Tarik

foto by instagram.com/mellyniavf/

Waduk kini menjadi sarana tempat tamasya dan juga bersantai dengan keluarga. Waduk Dawuhan berfungsi sebagai irigasi yang mengairi persawahan 9 desa di 3 kecamatan. Keberadaannya memiliki tugas penting untuk kehidupan para petani.

Sejarah atau asal undangan dibangunnya waduk memang untuk irigasi masyarakat setempat. Luas waduk sekitar 1.273 hektar. Pada tahun 2008 masyarakat setempat memberdayakan areal waduk memakai sistim keramba untuk pembudidayaan ikan tawar.

foto by instagram.com/indrabarbara/

Akan tetapi kondisi air yang semakin berkurang saat kemarau tiba sehingga Pemda menyarankan pembudidayaannya dengan sistem tebar benih dikala animo hujan. Panen ikan dilakukan 5 bulan lalu.

Saat keadaan cuaca normal, waduk dapat mengairi semua areal sawah kesembilan desa dengan total 2.823 hektar di Kecamatan Wonoasri, Balerejo, dan Madiun. Namun saat kemarau, masyarakat setempat memanfaatkannya dengan mencari ikan atau cocok tanam.

Waduk Dawuhan juga menjadi spot memancing favorit. Ketika kesini Anda akan melihat pemandangan sejumlah pengunjung sedang menunggu mata kailnya disambar ikan.

foto by instagram.com/alan_dkk_/

Hunting Foto

Selain pemandangan orang mancing, bawah umur juga menikmati bermain disini. Mereka biasanya bermain layang-layang meskipun dikala kondisi terik sekalipun.

Selain itu, waduk ini juga dapat menjadi daerah hunting fotografi. Anda mampu mengambil gambar dengan backgroung waduk dan gunung dibelakangnya.

Terdapat beberapa perahu disandarkan ditepi waduk. Perahu-perahu ini merupakan milik para warga yang bekerja di ladang atau sawah. Perahu merupakan salah satu alat transportasi mereka untuk mencapai areal lahan sawah ataupun ladang.

foto by instagram.com/hadiningratsam/

Sebenarnya tidak harus mengarungi danau buatan ini untuk sampai areal sawah alasannya mampu melewati jalur darat namun harus memutar kurang lebih 5 kilometer dan harus melintasi hutan.

Perahu ini selain berfungsi untuk alat transportasi menuju lahan sawah, ladang ataupun memancing juga disewakan ialah hanya Rp.2 ribu untuk ganti ongkos solar.

Para petani biasa berangkat bercocok tanam di pagi hari dan pulang ketika siang atau sore hari.

foto by instagram.com/dhimaz_permana/

Karena trend kemarau yang cukup panjang beberapa bulan terakhir ini mengakibatkan debit air semakin berkurang. Untuk petani yang mempunyai sawar didekat waduk tidak begitu kesusahan.

Namun beberapa desa dibawahnya mengalami kesulitan pengairan sawah mereka. Jika kemarau terus berlanjut keadaan mungkin akan semakin parah terutama ketika musim tanam tiba.

foto by instagram.com/deo_singgih/

Air di waduk ini memenuhi kebutuhan irigasi sawah saja bukan untuk rumah tangga. Untuk air rumah tangga seperti minum, masak, mandi, warga sekitar menggunakan air sumur.

Memakan Korban

Danau ini dahulu pernah memakan korban sekitar tahun 2011. Pada waktu itu ada 6 anak-anak Sekolah Dasar bermain di areal waduk. Mereka berlima menaiki perahu sampai hingga tengah. 1 anak kebetulan tidak ikut naik bahtera.

Baru sekitar 5 meter jaraknya dari tepian waduk tiba-datang bahtera sudah terisi penuh air. Para belum dewasa itu tidak mengetahui bila perahu yang bersandar di tepi ternyata bocor.

foto by instagram.com/marnia27/

Saat menyadari bila perahunya bocor dan mereka akan tenggelam, kelima bocah tersebut panik dan menciptakan keseimbangan bahtera tak terjaga, bergoyang-goyang, oleng dan akibatnya terbalik.

Mereka jatuh kedalam air dengan kedalaman kurang lebih 2-3 meter. 2 dari kelima bocah dapat berenang sehingga mampu meraih tepi sedangkan ketiga temanya tidak dapat berenang.

Melihat ketiga temannya tenggelam pribadi mereka lari meminta tolong penduduk sekitar. Seketika para warga datang dan berusaha mencari ketiga anak yang karam. Setelah 2 jam kemudian, jasad 3 anak tersebut baru diketemukan.

foto by instagram.com/ita_yulia5294/

Ketiga korban ditemukan bersahabat dengan lokasi tenggelamnya. Saat ditemukan kondisi sudah menjadi jenazah dan segera dilarikan ke Rumah Sakit untuk dilakukan pengidentifikasian.

6 bawah umur ini bersekolah di Sekolah Dasar Negeri Ngadirejo 2. Sedangkan 3 korban yang tewas berasal dari Desa Ngadirejo, Kecamatan Wonoasri bernama Wahyu Aji, Septian, dan Syaiful.

Ketiga anak yang selamat bercerita jika niatnya ke waduk dan menyeberang menggunakan perahu yakni untuk mencari jangkrik. 1 anak yang tidak ikut naik perahu memang menyadari bila beliau tidak bisa berenang sehingga tidak ikut naik.

Rute Jalan

foto by instagram.com/warih_sanjaya/

Waduk Dawuhan terletak di desa Sidomulyo, Kec. Wonoasri, Kab. Madiun, di bawah lereng Gunung Wilis. Dari pusat kota Madiun kesini hanya 15 menitan atau sekitar 20 kilometer.

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni