Jembatan Ampera Malam Hari

class=”kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left “
data-id=”6698″
data-slug=””>

4.6
/
5
(
9

votes

)

Lokasi: Jl. Ampera 9/10 Ulu, Kemuning, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30111

Map: Klik Disini

HTM: Gratis

Buka Tutup: 24 Jam

Menjelang digelarnya Asian Games pada 18 Agustus – 2 September 2020, Jembatan Ampera menjadi perhatian publik di tanah air, alasannya adalah penyelenggaraan pesta olah raga paling besar di Asia ini bakal ditempatkan di Jakarta dan Palembang.

Jembatan Ampera mendapatkan perhatian khusus, utamanya dari Pemerintah Kota Palembang, alasannya adalah bangunan ini merupakan sentra lalu lalang kendaraan dari Ulu menuju Ilir atau sebaliknya, mengingat Ampera Bridge menjadi penghubung dari kedua daerah tersebut.

foto by instagram.com/rfkhrh

Itu sebabnya dalam beberapa bulan terakhir serangkaian perbaikan dan penambahan fasilitas dilakukan di Jembatan Ampera, mulai dari pemasangan CCTV untuk memantau kriminalitas dan aktifitas masyarakat sampai dengan pembangunan lintasan kereta api ringan LRT (Light Rail Transit) untuk mengatasi kemacetan.

Serangkaian perbaikan dan penambahan akomodasi tersebut, menciptakan Jembatan Ampera yang elok bakal terlihat semakin menawan.

Sejarah Singkat

Sebagaimana yang tertulis dalam ensiklopedia, wikipedia, dan beberapa sumber yang lain, sebelum Jembatan Ampera dibangun, tempo dulu sudah ada gagasan untuk menyatukan Kota Palembang yang terpisah oleh Sungai Musi.

Gagasan tersebut muncul pada jaman Pemerintahan Belanda, tepatnya di tahun 1924, disaat Walikota Palembang dijabat oleh Le Cocq de Ville. Namun, sampai dengan Belanda meninggalkan Indonesia, gagasan tersebut tidak pernah terealisasi.

foto by instagram.com/rfkhrh

Gagasan tersebut kembali dimunculkan pada 29 Oktober 1956 saat berlangsung sidang pleno DPRD Peralihan Kota Besar Palembang. Dengan modal awal hanya Rp.30.000, dibentuklah panitia pembangunan dan salah satu langkah yang ditempuh oleh panitia tersebut yakni melakukan pendekatan terhadap Presiden Soekarno.

Upaya tersebut membuahkan hasil, alasannya Bung Karno ternyata menyetujui anjuran tersebut, sehingga dilakukanlah penunjukan perusahaan pelaksana pembangunan dan penandatanganan kontrak dengan nilai sebesar USD 4.500.000.

Biaya pembangunan diambil dari harta pampasan perang Jepang dan ironisnya tenaga jago yang mengerjakan juga berasal dari Jepang.

Proses pembangunan diawali bulan April 1962 dan selesai 3 tahun lalu, sehingga pada tahun 1965 diresmikan dengan nama Jembatan Soekarno. Kala itu Jembatan Soekarno merupakan jembatan terpanjang se-Asia Tenggara.

foto by instagram.com/orang.bingung_

Pada dikala terjadi pergolakan politik di Indonesia, di sana-sini muncul gerakan Anti-Soekarno, tidak terkecuali di Kota Palembang. Hal itulah yang membuat nama jembatan pada tahun 1966 dirubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).

Awalnya bab tengah dari tubuh jembatan gantung ini mampu terangkat dan bergerak naik turun supaya tiang kapal yang melintasi Susngai Musi tidak tersangkut tubuh jembatan.

Untuk menaik turunkan tubuh jembatan, dipakai peralatan mekanis berupa 2 bandul pemberat yang masing-masing berbobot 500 ton. Kecepatan pengangkatan sekitar 10 meter/menit dan total waktu untuk mengangkat tubuh jembatan secara penuh selama 30 menit.

foto by instagram.com/ahmad_madie

Namun pada tahun 1970 aktifitas menaik turunkan badan jembatan sudah tidak lagi dilakukan alasannya adalah dianggap mengganggu arus lalu lintas. Bandul pemberat tersebut selanjutnya diturunkan dari atas menara pada tahun 1990 guna menghindari jatuhnya bandul tersebut.

Selayang Pandang

Terletak di tengah-tengah Kota Palembang yang menjadi ibukota Provinsi Sumatera Selatan, peran dan fungsi Jembatan Ampera sangat vital karena menjadi penghubung antara daaerah yang berada di seberang Ulu dengan seberang Ilir yang dibelah oleh Sungai Musi. Tidak heran bila jembatan ini menjadi ciri khas sekaligus dijadikan sebagai gambar logo Provinsi Sumsel.

Selain memiliki fungsi hemat, landmark utama Kota Palembang ini juga dijadikan sarana rekreasi oleh masyarakat serta kerap dijadikan lokasi untuk menyambut momen-momen penting.

Seperti menjadi kawasan pengamatan GMT (Gerhana Matahari Total) pada bulan maret tahun 2016, untuk melihat indahnya Super Blue Blood Moon di bulan Januari 2020 yang lalu dan yang pasti pada setiap malam pergantian tahun Jembatan Ampera ditutup selama beberapa jam untuk menghindari macetnya arus lalu lintas.

foto by instagram.com/angkut18

Sebagaimana beberapa jembatan besar lainnya di Indonesia, sejumlah legenda, mitos dan juga kisah misteri ikut mewarnai keberadaan bangunan ini.

Beberapa diantaranya yaitu kisah perihal buaya dan ular raksasa, sosok kuntilanak yang kerap menumpang kendaraan, penampakan makhluk halus yang menjadi penyebab kecelakaan, adanya sosok naga yang menawarkan kabar peristiwa, dan yang paling populer yakni dongeng ihwal Hantu Banyu atau hantu air berwujud seekor siamang yang kerap meminta tumbal.

Terlepas benar tidaknya cerita-kisah mistis tersebut, fakta yang tidak terbantahkan adalah seringnya jembatan ini dijadikan sebagai lokasi bunuh diri. Ada yang dilakukan dengan cara menceburkan diri ke sungai ada juga dengan cara gantung diri. Sehingga banyak yang mengatakan bahwa daerah di sekitar Ampera Bridge seram.

Kesan menakutkan tersebut semakin diperkuat ketika terjadinya insiden kebakaran pada tahun 2010. Dalam insiden terbakarnya bagian bawah jembatan tersebut, konon banyak saksi mata yang melihat munculnya siluet di tengah asap dan kobaran api berbentuk sosok insan.

foto by instagram.com/miko_micmic

Ampera berulangkali diprediksi bakal roboh. Salah satu diantaranya ramalan Mama Laurent di tahun 2020 yang secara tersirat mengungkapkan runtuhnya Ampera. Namun kenyataannya sampai saat ini Jembatan Ampera masih tetap kokoh bangun.

Masyarakat juga tidak perlu khawatir Ampera Bridge bakal ambruk, alasannya adalah pemkot Palembang menyediakan anggaran khusus untuk perawatannya, mirip melaksanakan renovasi pada tahun 1981 dan perubahan warna cat yang sudah 3 kali dilakukan.

Awal bangun Ampera dicat berwarna bubuk-bubuk, lalu berganti kuning pada tahun 1992 dan semenjak tahun 2002 sampai kini jembatan ini berwarna merah.

Pesona Lokasi

foto by instagram.com/shaniamelia

Menjadi sesuatu yang wajar kalau Jembatan Ampera dijadikan sebagai tujuan wisata alasannya adalah bentuk bangunannya sendiri memang sangat indah, belum lagi panorama di sekitarnya yang sangat menawan.

Tidak heran jika Ampera banyak dijadikan wallpaper komputer dan gadget serta menginspirasi banyak seniman yang menumpahkan karyanya dalam bentuk puisi, cerpen atau lirik lagu. Salah satu diantaranya adalah Lagu Batak yang videonya mampu dilihat di youtube dengan judul Jembatan Ampera Palembang yang dibawakan Bulan Panjaitan dan Jefry Simatupang.

Bahkan image dari Ampera Bridge dalam bentuk cartoon coreldraw, gambar vector maupun kartun PNG menjadi mod website game terkenal dunia yaitu GTA SA (San Andreas) serta diangkat sebagai lokasi dari salah satu game animasi online yang juga populer di dunia yakni PB (Point Blank).

foto by instagram.com/lupierachi

Game PB yang dirilis Point Blank Garena Indonesia pada 21 Maret 2017 tersebut merupakan game PB dengan MAP terpanjang yang dipenuhi dengan lorong-lorong dan kawasan-daerah diam-diam yang menarik untuk dimainkan.

Berada di tengah Ampera Bridge, wisatawan akan dapat menyaksikan daerah Seberang Ilir yang dihiasi Pelabuhan Boom Baru, Pabrik Pupuk Sriwisaya, Masjid Agung, Kantor Walikota, mall serta hotel. Sedang di Seberang Ulu terlihat muara Sungai ogan dan Sungai Komering, Pabrik Semen Baturaja dan Stadion Gelora Sriwijaya.

Kedua lokasi tersebut memiliki sejumlah perbedaan, baik karakteristik masyarakatnya maupun tata kotanya.

Untuk mampu menikmati kedua daerah tersebut, wisatawan dapat naik ke puncak menara Jembatan Ampera dengan melewati 200 anak tangga. Menara tersebut memiliki dinding beling sehingga mereka yang berada di dalamnya mampu melihat dengan terperinci pemandangan sekeliling, termasuk yang berada di bawah dan di kejauhan.

Di ruang tersebut juga tersedia sejumlah gosip wacana spesifikasi jembatan yang ditulis dengan memakai ejaan usang dan sebagian hurufnya terlihat kabur.

foto by instagram.com/octifanny

Pada bab bawah jembatan, dapat ditemui taman kota yang diramaikan oleh para pedagang kuliner, penjual barang-barang elektro dan berbagai jenis dagangan lainnya.

Berwisata masakan di tempat Ampera Bridge menjadi aktifitas yang tidak boleh dilewatkan, sebab selain banyak masakan khas Palembang yang dapat ditemui di sini, mirip Pempek, Tekwan, Laksan, Pindang Patin, Tempoyak, Lenggang, serta yang.lain, tempat bersantappun juga terkesan istimewah.

Tempat bersantap istimewah yang dimaksud yakni Restoran Kapal Terapung yang terdapat di pinggir Sungai Musi. Beberapa kapal kayu yaang difungsikan untuk cafe dan resto tersebut masing-masing mempunyai kapasitas 15 – 20 orang.

Karena kapasitas yang terbatas, pada dikala demam isu liburan, pengunjung yang ingin bersantap di Restoran Kapal Terapung ini kerapkali harus antri.

Selain kawasan bersantap yang ada di pinggir sungai, terdapat pula daerah kuliner yang ada di daratan, salah satunya Dermaga Point.

Dermaga kecil dengan dua lantai ini selain memiliki fungsi sebagai Dermaga Sungai Musi juga diisi dengan beberapa tenant francise yang menjual aneka macam jenis kuliner, seperti ayam goreng, roti, donut dan sebagainya.

Untuk wisatawan yang ingin membeli souvenir khas Palembang mirip kain songket dan aneka macam macam kerajinan, mampu menuju ke Pasar 16 Ilir. Jarak pasar ini dari jembatan sekitar 50 meter. Sedang yang ingin ke Pusat Kerajinan Songket dan Pusat Lekeur (Ukiran), dari Pasar 16 Ilir jaraknya sekitar 3 km.

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni