Kampung Wisata Al Munawar

class=”kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left “
data-id=”6676″
data-slug=””>

5
/
5
(
2

votes

)

Lokasi: Jl. K.H. A. Azhari Lorong Al-Munawar, 13 Ulu, Seberang Ulu II, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30115

Map: Klik Disini

HTM: Rp. 3.000 per Orang

Buka Tutup: 07.30 – 17.00

Telepon:

Wisata tidaklah selalu perihal alam, museum dan taman, namun sebuah kampung bisa disulap menjadi wisata menarik dengan menonjolkan keunikannya. Kota bau tanah atau kampung dengan sejarah tersendiri sering dijadikan objek wisata.

Berbicara ihwal kota tua, Palembang merupakan salah satu kota tertua di Indonesia. Palembang mempunyai berbagai etnis dan budaya di lingkungan masyarakatnya. Mulai dari etnis Tionghoa, etnis India, etnis Arab dan lain-lain.

Kali ini kita akan berbicara mengenai wisata kampung Arab yang terkenal dengan sebutan Wisata Al Munawar. Kampung ini berisi orang-orang keturunan arab dan juga dengan banyak sekali budayanya. Sehingga kampung ini mampu dijadikan destinasi wisata Palembang.

Cara Menuju Lokasi

Mengunjungi kampung wisata Al Munawar sangatlah gampang. Kampung ini berada di daerah 13 Ulu, Seberang Ulu II, Kota Palembang. Tepat di sisi sungai Musi dan tak jauh dari Jembatan Ampera.

Cara menuju kampung ini mampu memakai jalur darat yaitu dengan menyebrang melewati jembatan Ampera dari sisi Ilir menuju sisi Ulu Palembang.

foto by instagram.com/im.anshary

Terdapat banyak transportasi umum mirip bus kota dan transmusi menuju Plaju mampu dipakai sampai turun di sisi sebrang Ulu. Selanjutnya berjalan kaki sedikit menuju Pasar 7 ulu dan naik angkot Tangga Takat berwarna biru.

Berhentilah di Lorong Al-Munawar. Lorogng ini berada tepat di depan gedung Pos Pemadam Kebakaran. Atau jikalau tidak mau repot gonta ganti angkutan bisa menggunakan aplikasi ojek online atau taksi.

Ada cara lebih menarik untuk sampai ke Kampung Al Munawar ialah melewati jalur air alias menyebrangi sungai Musi. Anda mampu naik bahtera kecil. Perahu ini disebut “ketek” oleh masyarakat Palembang.

Berawal dari tempat dermaga Benteng Kuto Besak, tarif ketek sendiri tidak menentu alasannya adalah perlu tawar menawar. Standarnya ialah 50 ribu untuk berangkat dan kembali. Karena semakin ramai akan semakin murah pula tarifnya.

foto by instagram.com/im.anshary

Sejarah Singkat

Asal usul kampung Arab Al Munawar berkaitan dengan era pemerintahan Belanda ratusan tahun silam. Pada tahun 1825, pemerintah Belanda melaksanakan pendekatan terhadap etnis Arab.

Pendekatan ini dengan menunjuk seorang pemimpin, kemudian diberi pangkat kapten. Kapten arab tersebut bernama Ahmad Al-Munawar. Kapten ini wafat pada tahun 1970.

Di kampung ini terdapat formasi rumah – rumah tua. Usia rumah bahkan hingga berusia hingga 300 tahun dan masih kokoh bangun. Hal ini dikarenakan rumah-rumah di kampung Al Munawar terbuat dari kayu – kayu ulin dan watu marmer yang didatangkan dari dataran Eropa.

foto by instagram.com/im.anshary

Ada sekitar 17 rumah renta di kampung ini dan 8 diantaranya masuk ke dalam Bangunan Cagar Budaya. Sehingga sangat dirawat secara rutin untuk menjaganya tetap kokoh dan higienis guna menjaga kearifan lokal.

Budaya Al Munawar

Hal yang menarik di kampung ini ialah penduduk disini mempunyai garis korelasi yang bersahabat. Ini terjadi karena tradisi yang tidak memperbolehkan anak perempuan menikah dengan orang luar kampung. Namun untuk pria diperbolehkan menikahi wanita luar kampung karena garis keturunan Ayah sebagai orang Arab sangat kental.

foto by instagram.com/w_akbar_pr

Karena merupakan kampung dengan penduduk warga Arab, maka nilai – nilai islam menjadi tiang utama. Dapat dilihat dari kegiatan sekolah, hari Jum’at yaitu hari libur namun justru hari ahad sekolah tetap berlangsung.

Pada hari – hari khusus mirip Tahun Baru Islam, Ramadhan dan Maulid Nabi berlangsung kegiatan kesenian mirip gambus dalam perayaannya. Oleh karena itu Al Munawar menjadi salah satu destinasi wisata religi terbaik di Kota Palembang.

Bangunan Tua Instagramable

foto by instagram.com/syamghais

Setiap sudut kampung Al Munawar terdiri dari bangunan – bangunan renta dengan kondisi masih orisinil atau otentik. Terdapat rumah – rumah dengan desain arsitektur unik yang dapat dijadikan untuk spot berfoto.

Terdapat banyak kursi kayu dengan penataan rapi yang membalut suasana tradisional di kampung ini. Apalagi saat masuk lebih dalam menuju lorong – lorong yang sudah ditata manis menambah kesan kota renta menjadi amat kental.

foto by instagram.com/im.anshary

Ciri khas rumah disini yaitu rumah panggung dengan lantai bawah. Rumah ini dibangun dengan materi kayu maupun. Adapula bangunanya sudah berbahan bata dengan beralaskan lantai berbahan marmer. Motif lantai yang unik menambah kesan tradional dan juga elegan.

Untuk menambah kesan timur tengah yang kental, kampung Al Munawar telah dipercantik dengan bangunan kubah ala Turki. Kubah ini ditempatkan di bersahabat dermaga menghadap sungai Musi.

Di bab tepi sungai Musi juga ada sebuah Musholla. Lokasi kawasan ibadah ini menjorok pribadi ke permukaan sungai. Dengan suasana tersebut akan memperlihatkan rasa penasaran untuk mencicipi beribadah disana.

foto by instagram.com/eranitri

Warga Yang Ramah

Apabila anda menuju lokasi dengan jalur sungai, maka anda akan disambut oleh goresan pena “al munawar” dan “logo pesona Indonesia” yang terpampang menghadap sungai Musi. Dengan bangunan yang lebih banyak didominasi berbahan kayu menambah pemandangan yang sungguh klasik.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika berkunjung ke kampung ini mengingat kita juga sebagai tamu yang juga harus mengikuti dan menghormati peraturan yang ada di kampung Arab ini. Peraturan yang harus dipatuhi ialah sebagai berikut:

  1. Pakaian sopan menggunakan celana/ rok panjang dan baju yang tertutup.
  2. Tidak boleh foto berpasangan bagi yang bukan muhrim/ belum menikah
  3. dihentikan duduk berduaan bagi yang bukan muhrim/ belum menikah

foto by instagram.com/siska.dwi.kristanti

Saat kita berada di dalam tempat kampung arab seakan mencicipi seperti rumah sendiri alasannya keramahan dan senyum manis dari penduduk sekitar. Walau hanya sebentar saja kita mampu mencicipi kehidupan dengan budaya Arab disini.

Kuliner Khas Al Munawar

Pengunjung Al Munawar dapat menikmati sajian masakan di acara “munggahan” sejenis tradisi makan bersama secara lesehan dengan sajian masakan bernuansa arab.

Hidangan khas ialah nasi minyak yang mirip dengan nasi briyani namun ada gabungan kismis dengan didampingi oleh lauk pauk mirip gulai kambing, ayam serta sayuran dan buah – buahan.

foto by instagram.com/ahmad_rasyid27

Harganya pun erat, dengan 20 ribu rupiah kita mampu menikmati kuliner nasi minyak dan lauknya. Sensasi yang lebih seru dengan iringan musik gambus serta rumah yang menghadap langsung ke sungai Musi.

Di kampung ini terdapat kedai yang menawarkan kopi khas yang cukup ngetren. Bagi pecinta kopi sangat disarankan untuk mencoba kopi khas buatan dari kampung ini. Menikmati secangkir kopi sembari bercengkrama dan ditemani dengan suara arus sungai Musi.

Al Qur’an Bertinta Emas

Hal yang mengejutkan di kampung Arab Al Munawar ini adalah adanya Al Qur’an tua dengan tulisan berbahan tinta emas yang berusia sekitar 250 tahun Al Qur’an ini sendiri tersimpan rapi di Rumah Limas. Al Qur’an ini sudah jarang dipakai mengingat umurnya yang sudah tua.

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni