Keunikan Lembah Harau

class=”kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left “
data-id=”9420″
data-slug=””>

4.1
/
5
(
12

votes

)

Lokasi: Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat

Map: Klik Disini

HTM: Gratis

Buka Tutup: 24 Jam

Jika mempunyai kesempatan menjelajah Provinsi Sumatera Barat, jangan lupa singgah di Kabupaten Lima Puluh Kota, alasannya kabupaten ini memiliki segudang objek pariwisata, yang terdiri atas 33 objek wisata alam, 9 objek wisata sejarah, 6 objek wisata budaya dan 4 objek wisata arkeologi.

foto by instagram.com/redyagam

Diantara sekian banyak objek wisata yang ada di 50 Kota, salah satu yang menjadi maskotnya adalah Lembah Harau yang terdapat di Kecamatan Harau. Disebut lembah alasannya adalah objek wisata ini memang berupa hamparan tanah luas yang diapit tebing tinggi dengan posisi tegak lurus dari permukaan tanah.

Nama Lembah Harau sudah tidak aneh lagi bagi masyarakat Sumbar, Sumut, Jambi dan Riau, karena kawasan inilah yang menjadi destinasi favorit dikala menghabiskan liburan. Bahkan, banyak traveller di Indonesia yang memasukkan Lembah Harau ke dalam daftar kunjungan, alasannya adalah pesona yang disuguhkannya memang luar biasa.

foto by instagram.com/hendri_rupat_89

Sekilas Tentang

Berada di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumbar, lokasi Lembah Harau berjarak sekitar 138 km dari Kota padang atau sekitar 47 km dari Kota Bukit Tinggi dan sekitar 18 km dari Kota Payahkumbuh. Karena erat dengan kota-kota utama di Sumbar, rute menuju tempat wisata ini cukup mudah untuk dijangkau dengan jalan masuk jalan yang gampang dilalui.

Sebagaimana dikutip dari wikipedia, destinasi ini berupa lembah subur yang dilingkupi watu pasir terjal berwarna-warni setinggi 100 – 500 meter dari atas permukaan tanah.

Topografinya tidak berbeda jauh dengan cagar alam yang berbukit-bukit dan bergelombang dengan ketinggian 500 – 800 meter dpl. Bukit-bukit indah yang terdapat di lembah ini diantaranya adalah Bukit Jambu, Bukit Tarantang, Bukit Singkarak dan Bukit Air Putih.

foto by instagram.com/nyimaszahara

Keindahan Lembah Harau sudah dikenal semenjak jaman Pemerintahan Hindia Belanda, hal tersebut dapat diketahui dari adanya sebuah prasasti di daerah Air Terjun Sarasah Bunta yang didirikan oleh Assisten Residen Lima Puluh Kota yang bernama J.H.G. Boissevain pada tanggal 14 Agustus 1926.

Konon pada dikala berada di daerah Lembah Harau, Boissevain terkesima melihat keindahan alam di sekelilingnya dan tidak henti-hentinya berdecak kagum sambil mengucapkan “Hemel…hemel” yang dalam Bahasa Belanda mempunyai arti “mempesona bagaikan sorga”.

foto by instagram.com/vera_quinzio

Tidak usang sesudah Assisten Residen Lima Puluh Kota mendirikan prasasti yang terpahat di atas kerikil marmer, pada 19 Januari 1933, Pemerintah Hindia Belanda menetapkan kawasan ini dengan status Cagar Alam untuk bidang Aesthestis dan Biologis dengan luas 315 hektar.

Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1979, Badan Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) melakukan pengukuran ulang dan menetapkan luas definitif Cagar Alam seluas 298 hektar.

Status Cagar Alam tersebut lalu berkembang menjadi Hutan Wisata, melalui Keputusan Menteri Pertanian pada 2 Agustus 1979, dengan Taman Wisata seluas 27,5 hektar.

Karena itulah Lembah Harau selain menyandang sebagai daerah Cagar Alam, juga merupakan Hutan Wisata yang di dalamnya terdapat Taman Wisata.

foto by instagram.com/dhenny_44

Karena mempunyai area yang difungsikan sebagai Taman Wisata, maka aneka macam sarana dan kemudahan bagi wisatawanpun tersedia di tempat ini, mirip, pertamanan, kawasan duduk dan bangku taman, kupel, jogging area, taman satwa, sarana bermain belum dewasa, mushollah, kamar mandi dan toilet serta area parkir luas yang dilengkapi kios-kios yang menjual makanan/minuman dan souvenir.

Sebagai daerah Cagar Alam, banyak sekali jenis tumbuhan dan satwa langka mampu ditemui di sini, seperti Harimau Sumatera, Simpai, Beruang, Tapir, Kambing Hutan, Monyet Ekor Panjang dan Landak. Sedang untuk jenis burung yang dilindungi sejumlah 19 spesies, beberapa diantaranya yakni Burung Kuau, Burung Enggang dan masih banyak lagi yang lain.

Sejarah Legenda Mitos

foto by instagram.com/3lvi_chen

Konon, menurut legenda dan mitos masyarakat setempat, nama “Harau” berasal dari kata “Orau”. Nama tersebut diambil sebab tempo dulu penduduk yang tinggal di bawah tebing kerap dilanda banjir serta longsor, sehingga mereka kerap berteriak terbawa oleh rasa panik.

Karena sering berteriak itulah, membuat bunyi penduduk banyak yang parau, sehingga penduduk dari kawasan lain menyebut mereka “Orau” yang kemudian menjelma “Arau” sebelum aklhirnya menjadi “Harau”.

Terdapat pula sebuah legenda yang masih hidup di tengah-tengah masyarakat dalam bentuk Cerita Randai yang berjudul “Randai Sari Banilai”. Legenda ini berkisah perihal Raja Hindustan yang kapalnya hanyut dan terdampar di Lembah Harau.

Legenda ini juga bercerita wacana kisah kasih putrinya yang bernama Puti Sari Banilai yang tubuhnya menjelma watu sebab mengingkari kesepakatan pertunangannya.

foto by instagram.com/panjaitan.aisyah

Selain sejumlah legenda yang masih dituturkan dari verbal ke ekspresi, penduduk sekitar mempercayai bahwa bila ada pelangi maka pada saat itu pula bidadari-bidadari turun untuk mandi di bawah penderasan yang ada di Lembah Harau.

Terlepas benar atau tidaknya misteri tersebut, pada tahun 2008 konon ada kamera HP milik salah seorang mahasiswa yang tanpa sengaja mengabadikan rombongan bidadari tengah melayang di atas gerojokan dengan mengenakan baju putih dan coklat.

Gambar bidadari dari bidikan kamera HP tersebut saat ini banyak disimpan di ponsel milik para pedagang yang mengadu laba di sekitar gerojokan.

Daya Pukau

foto by instagram.com/suryowijokongko

Begitu memasuki tempat Lembah Harau, wisatawan akan disuguhi suasana alam pegunungan yang memukau berhiaskan 5 buah air terjun yang oleh masyarakat setempat disebut Sarah atau Sarasah dengan keseluruhan gerojokan memiliki ketinggian lebih dari 100 meter. Selain itu terdapat 4 sungai dengan ajaran air yang sangat jernih.

Pengunjung yang tiba ke sini mampu memilih salah satu atau mengunjungi tiga lokasi wisata yang ada sekaligus, adalah: Resort Sarasah Bunta, Resort Aka barayu dan Resort Rimbo Piobang. Ketiga resort tersebut masing-masing mempunyai kelebihan, baik dari sisi fasilitas maupun keindahan alam yang disuguhkan.

Resort Aka Barayun dihiasi air terjun yang dilengkapi bak renang di bawahnya dengan nuansa sekeliling yang asri. Bukit batu yang terjal serta mampu memantulkan bunyi (echo) di daerah ini kerap dijadikan sebagai wahana untuk aktifitas panjat tebing.

Di resort yang dahulu konon merupakan laut ini juga tersedia homestay dengan akomodasi lengkap bagi wisatawan yang ingin menginap.

Tepat di sisi sebelah Timur Aka Barayun terdapat Resort Sarasah Bunta yang mempunyai 4 gerojokan yang berjulukan Sarasah Aie Luluih, Sarasah Bunta, Sarasah Aie Angek dan Sarasah Murai. Selain itu juga terhampar sebuah telaga dengan airnya yang jernih dan pemandangan sekeliling yang menawan.

foto by instagram.com/dafilprajetia

Keempat penderasan yang ada di Resort Sarasah Bunta, masing-masing mempunyai kelebihan. Sarasah Aie Luluih airnya mengalir melalui dinding watu dengan kolam alami di bawahnya.

Air yang ada di sini dipercaya oleh masyarakat setempat mampu mengobatu infeksi dan membuat anggun serta baka muda kalau digunakan untuk membasuh muka.

Sarasah Bunta memiliki air terjun berbuntah-buntah indah dan konon sering dijadikan kawasan mandi para bidadari. Sarasah Murai, menjadi tempat burung-burung murai mandi dan memadu kasih pada siang hari. Sedang Sarasah Aie Angek mempunyai air yang hangat sehingga banyak dipakai sebagai sarana terapy.

Satu lagi Resort yang ada di Lembah Harau yaitu Resort Aka berayun. Berbeda dengan dua resort yang lain, Aka Barayun masih belum banyak dikunjungi para wisatawan meski keindahan alam di sekelilingnya tidak kalah dari dua resort yang lain.

Hal tersebut disebabkan karena terbatasnya kemudahan dan sarana yang ada di sini, alasannya Resort Aka Barayun memang masih dalam proses pengembangan.

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni