Keunikan Objek Wisata Kampung Kapitan

class=”kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left “
data-id=”7133″
data-slug=””>

3
/
5
(
4

votes

)

Lokasi : Jl. KH. Azhari, 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30111

Map: Klik Disini

HTM: Gratis

Buka Tutup: 17.00 – 23.00

Telepon: (0711) 313978

Budaya yakni harta yang tak ternilai harganya. Banyak negara yang menginginkan budaya yang beraneka ragam mirip Indonesia. Seakan budaya ini juga mewakili keberagaman tanaman dan fauna di bumi pertiwi ini.

Sayangnya, budaya yang mestinya dilestarikan seakan tergerus oleh budaya negara lain, khususnya budaya Barat. Kebanyakan orang berpikir jika budaya Barat ialah suatu hal yang keren. Inilah yang menjadi problem. Pancasila seharusnya digunakan sebagai penyaring, namun mulai ditinggalkan.

Mirisnya, ada yang mengatakan bahwa dirinya sangat mengamalkan nilai dari Pancasila, tetapi perilakunya sangat tidak mencerminkan ideologi negara ini. Memang lucu, hanya di tahun ini ideologi negara dijadikan pertolongan dari argumen-argumen yang terdengar benar, namun sejatinya amat konyol.

Tetapi kita tidak membahas hal itu. Sekarang mari kita membahas mengenai salah satu tempat wisata budaya dan sejarah yang ada di Sumatera, tepatnya di bagian selatannya, ialah Palembang.

foto by instagram.com/rizkeyajah13

Palembang merupakan salah satu kota besar. Kota ini populer dengan kuliner khasnya yang berjulukan pempek. Rasa masakan ini memang amat menggunggah selera. Apalagi dengan kuahnya yang bercita rasa unik dan menyegarkan.

Kota ini dulunya juga pernah disinggahi oleh bangsa Cina. Hal ini terlihat terang dari sisa peradaban Tionghoa yang ada di Kampung Kapitan. Kampung inilah yang dibahas di artikel ini.

Tempat wisata ini sangat perlu dilestarikan, alasannya adalah kaya sejarah dan akulturasi budaya, adalah Palembang dan Cina, terutama dari segi bentuk bangunan.

Keberadaan Kampung Kapitan ketika ini perlahan tapi niscaya mulai memudar. Seakan ini juga menjadi dampak dari pergeseran budaya akhir dari masukknya budaya negara lain yang lebih dipandang keren.

Hal ini juga seakan membuat sejarah hanya dianggap menjadi kala kemudian yang tidak perlu diungkit kembali dan dibiarkan perlahan mati seiring berjalannya waktu.

Sejarah Singkat

Kampung Kapitan merupakan salah satu daerah di Palembang yang menyimpan sejarah luar biasa dalam. Kisah sejarah ini berawal dari kala ke 14. Saat itu ada seorang perwira datang ke Palembang. Perwira ini merupakan orang penting dari Dinasti Ming, Cina. Nama Perwira ini ialah Tjoa.

Memang nama daerah wisata ini seperti salah satu nama jalan di Jakarta Timur, yaitu jalan Kapitan Klender Duren Sawit. Namun dari segi cerita dan deskripsi serta alamat tentu berbeda.

foto by instagram.com/rizkeyajah13

Awal kedatangan Perwira Tjoa ke bumi Palembang dianggap bukan suatu bahaya bagi penduduk. Namun saat Belanda tiba ke Palembang dan mulai menjajah, keadaan ini terbalik 180 derajat.

Belanda dengan siasatnya memanfaatkan etnis Tionghoa untuk membantu mereka dalam mengatur Palembang. Penjajah ini memilih orang dengan status ekonomi tinggi sebagai seorang pengawas. Pengawas ini disebut oleh Belanda dengan sebutan Kapitan.

Kapitan ditugaskan untuk mengurus problem kependudukan. Namun juga mengurus hal seperti perkawinan, perceraian serta pajak usaha yang nantinya akan diserahkan ke Belanda. Memang peran ini hampir setara dengan seorang camat, namun sedikit di atasnya.

foto by instagram.com/harian_nasional

Kapitan ini berlangsung sampai 10 generasi. Generasi ini juga merupakan final dari Kapitan. Nama generasi kesepuluh ini ialah Tjoa Ham Hin. Beliau memulai jabatan menjadi Kapitan mulai tahun 1880 sampai 1921. Di Kampung Kapitan ada foto kapitan terakhir ini.s

Dijelaskan sebelumnya jika seorang Kapitan ialah orang yang mempunyai status ekonomi di atas rata-rata. Tak heran jikalau tempat tinggalnya juga berbeda. Arsitektur rumah Kapitan merupakan perpaduan antara Palembang dan Cina.

foto by instagram.com/pejalankaki.101

Ciri khas dari arsitektur Palembang terlihat terperinci dari atap rumah yang berbentuk limas. Namun arsitektur khas Eropa ternyata juga ada di rumah ini. Di Kampung Kapitan ada 15 buah bangunan. Walaupun ini tempat ini sekilas hanya dihuni oleh warga Tionghoa, namun ternyata ada beberapa bangunan yang tidak mengadopsi arsitektur Cina.

Hal ini mampu jadi jika penghuni Kampung Kapitan tidak semuanya merupakan etnis Tionghoa. Namun rumah Kapitan terlihat amat berbeda. Rumah Kapitan ini terdiri dari dua bangunan dan mempunyai ukuran yang besar.

foto by instagram.com/pariwisata.palembang

Saat ini rumah Kapitan ini dihuni oleh keturunannya yang tentu bermarga Tjoa. Rumah ini berdinding kayu. Ada ruang tamu yang telah dilengkapi dengan meja dan bangku. Di ruangan ini juga ada beberapa gambar berupa foto maupun lukisan.

Ada hal unik dari foto Kapitan terakhir ini, sebab tengah mengenakan pakaian dinas. Foto ini seakan mengikuti orang yang sedang melihatnya.

Uniknya, ada juga lukisan dari sang Kapitan. Lukisan ini pun seperti juga mengikuti orang yang melihatnya, khususnya bagian sepatu dan mata sang Kapitan.

foto by instagram.com/drindahst

Ada ruangan lain di rumah sang Kapitan, adalah sebagai kawasan untuk beribadah. Ruangan ini boleh dimasuki oleh semua pengunjung, kecuali bagi perempuan yang sedang ada tamu. Sebelah rumah ini ada sebauh gedung dari beton. Gedung ini ialah kantor dari sang Kapitan.

foto by instagram.com/drindahst

Gedung ini biasanya dipakai sebagai daerah bertemu dengan pihak Belanda. Tentu pembahasannya tidak jauh dari tanggung jawab Belanda yang telah diberikan kepada ia. Namun ternyata, gedung ini juga mampu dipakai sebagai kawasan pesta.

Lokasi Dimana

Tempat wisata sejarah dan budaya ini terletak di kelurahan 7 Ulu, kecamatan Seberang Ulu I, kota Palembang. Lokasi destinasi wisata sejarah dan budaya Palembang ini mampu ditempuh melalui dua jalur transportasi, ialah darat dan air (melalui sungai).

foto by instagram.com/pariwisata.palembang

Info jalur darat diawali dengan menuju ke arah pasar 7 Ulu atau juga dikenal dengan pasar Klinik. Sesampainya di sana, perjalanan dilanjutkan menuju ke simpang 3. Kemudian berbelok ke arah kanan. Tidak jauh dari simpang 3 akan terlihat sebuah papan dengan goresan pena Kampung Kapitan pada sisi kiri jalan.

Sesampainya di lokasi mampu dijumpai restoran Kampung Kapitan. Restaurant dengan hidangan seafood ini berada di tepi sungai Musi. Tempat makan ini terlihat cukup terperinci dari daerah wisata Benteng Kuto Besak. Perjalanan memakai kendaraan berakhir di sini, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki.

foto by instagram.com/yunita_nita6

Perjalanan dari resto menuju ke lokasi wisata ini kurang lebih membutuhkan waktu kurang lebih 7 menit saja. Namun, bila ingin merasakan sensasi menyusuri sungai Musi, maka jalur air yakni pilihan terbaik.

Melalui jalur air diawali dengan memakirkan kendaraan di tempat wisata Benteng Kuto Besak. Untuk sewa perahu dari daerah wisata itu menuju ke Kampung Kapitan yaitu Rp. 25.000. Namun harga ini mampu berubah sewaktu-waktu, jadi setidaknya siapkan uang lebih. Satu bahtera mampu mengangkut sampai 10 orang.

Harga Tiket Masuk

Memasuki kawasan wisata Kampung Kapitan tidak perlu membayar tiket masuk alias gratis. Memang suatu hal yang gratis amat menyenangkan hati tiap orang, namun tanpa adanya tiket masuk bisa menjadi bumerang tersendiri bagi destinasi wisata Palembang ini.

Nomor atau no telp yang bisa dihubungi sudah tertera di atas. Namun belum diketahui secara pasti, itu nomor pengelola Kampung Kapitan atau tipologi makalah restoran.

Umumnya, tiket masuk dari kawasan-daerah wisata sejarah digunakan sebagai biaya retribusi. Biaya ini nantinya dipakai untuk merawat benda-benda dari kawasan wisata itu.

Tentu ini akan membuatnya semakin lestari dan mungkin saja bisa diketahui hingga beberapa generasi maupun akan lestari selamanya, kecuali Sang Maha Kuasa berkehendak lain.

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni