Lokasi Curug Cipurut

class=”kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left “
data-id=”6278″
data-slug=””>

2.8
/
5
(
6

votes

)

Lokasi: Desa Sumurugul, Kecamatan Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat

Map: Klik Disini

HTM: Weekdays Rp.5.000, Weekend Rp.20.000

Buka Tutup: 08.00 – 17.00 WIB

Telepon: (0246) 8541414, 0877-7879-3168

Dengan topografi wilayah sebagian berupa pegunungan dan perbukitan, membuat Kabupaten Purwakarta kaya akan wisata alam, mulai dari wisata gunung, bukit, goa, situ atau danau, sumber air panas hingga dengan curug atau penderasan.

Beberapa daerah wisata alam tersebut diantaranya yaitu Sumber Air Panas Cipancar dan Ciracas, Goa Jepang dan Goa Belanda, Situ Wanayasa, Desa Sejuta kerikil, Bukit Panenjoan, Pasir Langlang Panyawangan, dan masih banyak lagi yang lain.

foto by instagram.com/robi_ier

Sementara objek wisata dalam bentu waterfall, antara lain: Curug Suhada, Curug Tilu, Cijalu, Ponggang, Cilamaya, Ciseoh, Cisomang, dan satu lagi yang dilarang dilewatkan ialah Curug Cipurut.

Berada di daerah Cagar Alam Gunung Burangrang membuat objek wisata riam ini terjaga keasrian dan kealamiannya. Terlebih lokasinya tidak jauh dari Kota Purwakarta, menciptakan waterfall inipun banyak dikunjungi wisatawan.

Sejarah Singkat

foto by instagram.com/tiaraa.yy

Karena berada di kaki Gunung Burangrang, Curug Cipurut masuk ke dalam daerah Cagar Alam Gunung Burangrang.

Itu sebabnya pengelolaan dari objek wisata penderasan ini ditangani Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jabar I, sedang untuk operasional di lapangan ditangani Desa Wanayasa dan Desa Sumurugul.

Menurut masyarakat setempat, di area seluas 4 hektar terdapat 7 jeram dalam satu anutan air di Curug Cipurut.

Hanya saja yang diketahui oleh masyarakat umum dan dijadikan objek wisata hanya 3 gerojokan, yaitu Curug Utama yang berada di ujung tebing dengan ketinggian sekitar 25 meter dan 2 curug lainnya yang sedikit lebih landai.

Kedua curug itulah yang kerap dimanfaatkan oleh pengunjung untuk kawasan seluncur.

foto by instagram.com/melindadelezia

Sedang curug utama, jatuhnya air melewati bebatuan yang tersusun seperti tangga, sehingga pengunjung dapat menikmati air yang jatuh dari jarak dekat, baik untuk mandi maupun sekedar membasuh muka.

Karena daerah wisata ini berada di kaki gunung, maka suhu udarapun terasa sejuk, bahkan cenderung acuh taacuh disepanjang hari terlebih pada waktu malam.

Sasakala atau asal nama Curug Cipurut menurut sejarah atau kisah dari mulut ke mulut, konon sebab di sekitar penderasan tersebut dahulu tumbuh sebuah Pohon Buah Purut yang bentuknya ibarat Buah Limus berukuran kecil.

Buah Purut tersebut memiliki banyak getah sehingga tidak dapat dikonsumsi. Sayangnya pohon tersebut ketika ini sudah tidak ditemukan lagi di sekitar area curug.

instagram.com/septabenny

Ada lagi dongeng misteri yang ada di wilayah ini tepatnya di seluruh tempat Gunung Burangrang, ialah adanya binatang endemik yang bentuknya mirip seekor simpanse.

Bedanya hewan ini berukuran kecil dengan bulu berwarna putih dan kerap sekali memperdengarkan tawa dengan bunyi yang nyaring. Itu sebabnya masyarakat setempat menamakannya Surili, diambil dari kata “Seuri” yang dalam Bahasa Sunda memiliki arti “Tertawa”.

Cara Menuju Lokasi

Untuk menuju ke lokasi wisata yang mempunyai alamat di Desa Sumurugul, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat ini, pengunjung mampu mengawalinya dari pusat Kota Purwakarta yang berjarak sekitar 30 km dengan lama perjalanan sekitar 1 jam atau dari Kota Wanayasa yang jaraknya sekitar 3 km ke arah Selatan.

foto by instagram.com/penyakitc

Kondisi jalan relatif baik, namun sebagaimana abjad daerah dataran tinggi, penuh dengan tanjakan dan turunan serta tikungan. Selain itu badan jalan agak sempit sehingga butuh perilaku hati-hati dan waspada.

Perjalanan dari sentra Kota Purwakarta rute yang ditempuh yakni dengan menyusuri jalan yang menuju Wanayasa dan sesampai di Wanayasa membelokkan kendaraan ke arah Kecamatan Bojong.

Setelah 500 meter, Anda akan menjumpai pertigaan yang menuju Desa Sumunggul. Belokkan kendaraan ke arah kiri dan lewati jalan yang separuh beraspal dan separuhnya lagi masih berlapis bebatuan.

Untuk menuju ke lokasi parkir Curug Cipurut, dari pertigaan tersebut jauhnya masih sekitar 1,5 km. Setelah memarkirkan kendaraan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 500 meter dengan usang perjalanan sekitar 15 – 20 menit untuk datang di depan pintu gerbang lokasi wisata.

Bagi wisatawan yang datang dengan menggunakan kendaraan umum, dari Kota Purwakarta dapat menuju ke Terminal Simpang dan naik Angkutan Pedesaan atau minibus yang menuju ke Wanayasa.

Sesampai di Terminal Wanayasa, ganti naik Angkutan Pedesaan jurusan Bojong / Sawit dan turun di pintu gerbang Desa Sumurugul.

foto by instagram.com/ajirestupratama22

Dari pintu gerbang Desa Sumurugul ini perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 15 – 20 menit atau dengan naik ojek dengan ongkos Rp.10.000 untuk tiba pintu gerbang Curug Cipurut. Jika masih resah atau takut salah arah, manfaatkan peta dan GPS dengan koordinat 6°41’51″S 107°34’20″E.

Segarnya Air

Mereguk keindahan alam di Curug Cipurut, tidak hanya ketika berada di lokasi waterfall, tapi sudah tersaji begitu memasuki Kecamatan Wanayasa, sebab lokasinya yang berada di perbukitan, sehingga pepohonan yang hijau menjadi latar belakang suasana yang ada di kawasan ini.

Keindahan alam tersebut masih akan terus mengikuti perjalanan menuju ke Curug, sebab setelah melewati Pos Jaga atau loket untuk membeli tiket masuk, pengunjung akan disuguhi dengan panorama perkebunan teh serta pepohonan yang rindang di kanan kiri jalan.

foto by instagram.com/azzahrapsb_

Itu sebabnya meskipun harus berjalan sejauh kurang lebih 1 km, langkah kaki akan terasa ringan dan tidak merasakan lelah. Hanya saja harus tetap berhati-hati alasannya jalan setapak yang dilalui cenderung licin, terlebih pada ekspresi dominan hujan.

Bagi yang tidak terbiasa melakukan tracking jarak jauh, sebaiknya melengkapi dengan perbekalan makanan dan minuman yang cukup. Jika tidak membawa, usahakan membelinya di warung-warung yang ada di sekitar pos jaga, sebab di sepanjang perjalanan dan di lokasi riam tidak ada satupun pedagang masakan.

Usai berjalan kaki dan datang di lokasi, mata Anda akan pribadi dimanjakan oleh indahnya air yang terjun dari atas ketinggian tebing dengan balutan pepohonan di sekitarnya. Terdapat dua penderasan yang cukup landai sehingga banyak pengunjung yang memanfaatkannya untuk mandi dan bersantai serta bermain seluncur.

Di area sekitar kedua gerojokan tersebut terdapat banyak spot menawan untuk digunakan swafoto. Namun kalau ingin background yang lebih cantik lagi dapat menuju ke riam utama dengan ketinggian sekitar 25 meter.

foto by instagram.com/erickridwanbadon

Dengan suasana sekeliling yang masih alami serta udara yang sejuk, membuat siapapun bakal betah untuk berlama-usang di sekitar gerojokan. Itu pula sebabnya pihak pengelola menyediakan area camping ground bagi yang ingin berkemah.

Harga Tiket Masuk

Dibuka untuk umum dari jam 08.00 sampai jam 17.00 harga tiket masuk untuk setiap pengunjung sebesar Rp.5.000 ditambah ongkos parkir sebesar Rp.2.000 untuk motor dan Rp.5.000 untuk mobil.

Bagi wisatawan yang ingin berkemah di lokasi wisata, ada perhiasan biaya sebesar Rp.7.000 perorang.

foto by instagram.com/madeinpurwakarta

Fasilitas

Sebagaimana wisata waterfall di Indonesia pada umumnya, ada sejumlah keterbatasan akomodasi di area wisata. Fasilitas di sini hanya berupa area parkir yang hanya memiliki kapasitas sekitar 7 kendaraan roda empat.

Selain itu terdapat jalan setapak untuk melakukan tracking, trail dan shelter dari kayu untuk mempermudah pengunjung tiba di lokasi air terjun, kamar mandi dan toilet, serta beberapa warung jajanan.

Terdapat pula area camping ground yang sering dimanfaatkan untuk Pendidikan Dasar Kepecintaalaman dan dijadikan kawasan ritual akhlak istiadat oleh warga setempat. Area berkemah di tempat ini tidak hanya satu kawasan tapi ada beberapa daerah, sehingga wisatawan dapat bebas untuk memilih.

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni