Lokasi Jam Gadang

class=”kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left “
data-id=”6845″
data-slug=””>

5
/
5
(
3

votes

)

Lokasi: Jl. Istana, Kelurahan Bukit Cangang, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat

Map: Klik Disini

HTM: Gratis

Buka Tutup: 24 Jam

Setiap kali berbicara perihal Minangkabau atau Sumatera Barat, image masyarakat Indonesia akan tertuju pada sebuah Clock Tower yang bernama Jam Gadang.

Sehingga setiap kali mendeskripsikan perihal Minang dan Sumbar, baik dalam bentuk foto, lukisan, cipart, wallpaper, gambar kartun atau animasi, video dan sebagainya, sosok dari Jam Gadang tidak pernah lupa untuk diikutsertakan.

Karena itu tidak salah, kalau Jam Gadang menjadi landmark pujian masyarakat Sumatera Barat dan Kota Bukittinggi menjadikannya sebagai logo Pemerintah Kota. Lokasi monumen ini juga ditetapkan sebagai titik 0 alias pusat dari Kota Bukittinggi.

foto by instagram.com/marlina_alfariza

Selain itu banyak perusahaan, rumah makan, kelompok seni, serta komunitas-komunitas yang memakai nama “Jam Gadang” sebagai perwujudan rasa gembira terhadap bangunan yang ditetapkan sebagai cagar budaya melalui undang-undang No.11 tahun 2010 ini.

Beberapa diantaranya yakni Radio Streaming Online Jam Gadang yang mampu ditangkap melalui frekuensi 102.3 FM, Marching Band Gita Jam Gadang, Jam Gadang Reptile Community, serta yang lain.

foto by instagram.com/nasution0004

Karena selalu diidentikkan dengan Minangkabau, membuat siapapun yang berkunjung ke Kota Bukittinggi, wajib untuk singgah ke Taman Sabai Nan Aluih guna melihat keindahan dan kemegahan dari Jam Gadang.

Deskripsi Singkat

Berada di Pusat kota Bukittinggi, tepatnya di tengah Taman Sabai Nan Aluih, JL. Istana, Kelurahan Bukit Cangang, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat, dengan jarak sekitar 72 km dari Kota Padang atau sekitar 42 km dari Kota Payakumbuh, membuat lokasi Jam Gadang sangat mudah untuk diakses, baik dengan menggunakan kendaraan langsung maupun angkutan umum.

Wisatawan yang berangkat dari kedua Kota tersebut mampu eksklusif menuju Bukittinggi, dan sesampai di sana, bagi yang memakai angkutan umum mampu melanjutkan perjalanan ke alamat yang dituju dengan memakai angkutan kota.

foto by instagram.com/apus_ds

Sesampai di daerah, akan terlihat sebuah monumen berlantai empat setinggi 26 meter dengan bagian dasar berukuran 13 x 4 meter2, sedang bagian atas berhiaskan jam raksasa di keempat sisinya yang masing-masing mempunyai diameter 80 cm2.

Disebut Jam Gadang alasannya adalah kata”Gadang” dalam Bahasa Minangkabau memiliki arti “Besar”. Sehingga kata “Jam Gadang” selain merujuk pada nama monumen dari itu sendiri juga menggambarkan wujud dari monumen.

Jam Gadang banyak disebut sebagai kembaran dari Menara Big Ben yang ada di London, Inggris, karena mesin yang menggeraknya hanya diproduksi 2 unit oleh sebuah pabrik di Jerman yang bernama Vortmann Recklinghausen. Satu mesin digunakan di Menara Big Ben dan yang satu lagi digunakan oleh Jam Gadang.

foto by instagram.com/teguhseptyantriputra

Mesin tersebut bekerja dengan sistem mekanik lewat dua bandul besar yang satu sama lain saling menyeimbangkan. Dengan sistem tersebut, meski tidak memakai sumber energi apapun, jam mampu berfungsi terus selama bertahun-tahun.

Sejarah Struktur

Landmark kebangaan masyarakat Sumbar ini sebagaimana catatan wikipedia, dibangun pada tahun 1926 oleh sekretaris atau controleur Fort de Kock (kini menjadi Kota Bukittinggi), berjulukan Rook Maker, sesudah yang bersangkutan menerimanya dari Ratu Belanda, Wilhelmina, sebagai hadiah. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berusia 6 tahun.

foto by instagram.com/familyraffiah17

Dirancang oleh arsitektur asli Minangkabau yang berjulukan Jazid Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh, Clock Tower ini dibangun dengan memakai material pasir putih, kapur dan putih telor, tanpa menggunakan semen serta besi penyanggah.

Biaya yang dihabiskan untuk mendirikan bangunan ini sekitar 3.000 gulden atau kalau dirupiahkan dengan kurs mata uang sekarang sekitar Rp.22,7 juta. Karena dibangun hampir satu periode yang kemudian, biaya tersebut terbilang fantastis.

Saat pertama kali dibangun, atap menara Jam Gadang berbentuk bundar dengan bagian atas berhiaskan patung ayam jantan yang menghadap ke Timur. Saat Jepang menguasai Bukittinggi, bab atap direnovasi dan diganti dengan bentuk menyerupai klenteng atau pagoda.

 

foto by instagram.com/muliaman_ginting14

Bagian atap menara kembali mengalami perubahan sehabis Indonesia merdeka dengan diganti bentuk ibarat rumah budbahasa Minangkabau sebagai simbol dari keberadaan Suku Minangkabau di Sumatera Barat.

Karena merupakan cagar budaya, upaya perawatan dan renovasi dilakukan oleh pemerintah semoga Jam Gadang tetap tegak berdiri. Renovasi terakhir dilakukan oleh BPPI (Badan Pelestarian Pusaka Indonesia), pemkot Bukittinggi dan Kedubes Belanda di Jakarta pada tahun 2010, yang peresmiannya dilangsungkan bersamaan dengan HUT Kota Bukittinggi ke-262 pada 22 Desember 2010.

Wisata Kawasan

foto by instagram.com/riska.sabli.7

Berkunjung ke Taman Sabai Nan Aluih yang di tengahnya terdapat bangunan Jam Gadang, wisatawan tidak hanya akan menjumpai sebuah landmark megah berbentuk jam raksasa, namun juga akan melihat sesuatu yang ajaib dari Angka Romawi yang tertulis pada bulat jam.

Keanehan tersebut mampu dilihat dari penulisan angka 4 yang dalam angka Romawi semestinya ditulis IV, namun di sini di tulis IIII. Penulisan angka yang janggal tersebut sudah barang tentu mengundang tanda tanya, dan sampai sekarang belum ada balasan yang niscaya kecuali hanya tanggapan yang berupa asumsi.

Beberapa perkiraan yang menciptakan penulisan angka IV dibentuk dalam bentuk IIII diantaranya yakni alasannya adalah simbol IV mampu diartikan sebagai “I Victory (Aku Menang)” atau “Indonesia Victory”, sehingga Belanda takut mampu memicu semangat rakyat Bukittinggi untuk ikut berjuang memerdekaan Indonesia.

foto by instagram.com/titiknaura

Pendapat lain menyampaikan bila angka IIII merupakan simbol dari jumlah korban yang meninggal saat dibangunnya menara. Kemudian satu lagi pendapat mengatakan bahwa tempo dulu sebelum masa ke-19, penomoran Romawi memang bervariasi, ada yang menulis IV ada juga yang IIII.

Hal tersebut dapat dilihat dari eksistensi Jam Matahari. Karena Jam Gadang dibangun awal kurun XIX, sehingga tidak ajaib jika penulisan angka 4 menggunakan simbol IIII.

Selain melihat ketaknormalan dari penulisan angka Romawi pada lingkaran jam, wisatawan yang berkunjung ke sini juga mampu melakukan berbagai aktifitas menyenangkan di Taman Sabai Nan Aluih yang ditata sedemikian rupa sehingga menarik untuk dipandang.

Taman ini memang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau yang menjadi tempat rekreasi murah bagi masyarakat sekitar, menjadi daerah berkumpul beberapa komunitas, sekaligus menjadi daerah penyelenggaraan aneka macam macam event, mirip bazaar, lomba-lomba, festival dan sebagainya.

Jika keindahan taman masih belum memberi kepuasan, wisatawan mampu menuju ke puncak Menara Jam Gadang dengan menaiki anak tangga. Di atas menara itulah akan mampu disaksikan keindahan Kota Bukittinggi dengan bangunan-bangunannya yang berlatarbelakangkan bebukitan dan lembah-lembah hijau di kejauhan.

foto by instagram.com/nitabts

Di kawasan sekitar taman juga dapat ditemui bendi atau andong atau delman yang oleh masyarakat sekitar dimanfaatkan sebagai sarana transportasi dengan tarif jauh – bersahabat Rp.3.000. Tarif tersebut bisa membengkak menjadi Rp.25.000 – Rp.50.000 jika penumpangnya wisatawan dari luar daerah yang berjalan-jalan berkeliling daerah kota.

Pada malam hari Taman Sabai Nan Aluih semakin bertambah ramai oleh pengunjung, baik belum dewasa muda maupun mereka yang datang bersama keluarga. Mereka melaksanakan aneka macam macam aktifitas di luasnya taman sambil menyaksikan dan disaksikan oleh Jam Gadang yang berdiri megah di tengah taman.

Selain masyarakat yang ingin menikmati rekreasi murah, pada pedagang kaki lima dan penjual kuliner juga memenuhi beberapa sudut sahabat. Mereka menggelar aneka macam jenis dagangan dan menjual aneka kuliner, termasuk kuliner khas Minangkabau yang wajib dicoba oleh wisatawan dari luar kawasan.

Bagi wisatawan yang ingin berbelanja oleh-oleh khas Bukittinggi, tidak jauh dari lokasi taman, terdapat Pasar Atas yang menjual berbagai jenis barang, seperti kerajinan perak, kerajinan tenun dan berbagai souvenir serta pernik-pernik khas Minangkabau. Selain itu dijual pula barang-barang kebutuhan sehari-hari serta buah-buahan.

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni