Masjid Agung Palembang

class=”kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left “
data-id=”6705″
data-slug=””>

5
/
5
(
2

votes

)

Lokasi: Jl. Jenderal Sudirman, 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan, 30113

Map: Klik Disini

HTM: Gratis

Buka Tutup: 24 Jam

Sebagai salah satu sentra Kebudayaan Melayu yang memiliki akar Islam yang besar lengan berkuasa, bangunan masjid bukan hanya sebagai tempat untuk beribadah, tapi juga menjadi cermin dari budaya yang berkembang pada periode Pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam, ialah budaya Melayu yang berkembang lebih dahulu disusul akulturasi budaya Tionghoa dan Eropa.

foto by instagram.com/i_hairida

Asimilasi atau perpaduan dari ketiga unsur kebudayaan itulah yang mewarnai gaya arsitektur Masjid Agung Palembang, sehingga kawasan beribadah umat Islam terbesar di Sumatera Selatan ini menarik untuk dikunjungi.

Berkunjung ke Palembang serasa masih belum lengkap sebelum singgah ke Masjid Agung, alasannya adalah daerah inilah yang menjadi saksi sejarah perkembangan Kota Palembang dari jaman Pemerintahan Kesultanan menuju Jaman Kolonial hingga ke Jaman Modern kini ini.

Potret dari setiap jaman tersebut tercermin dari serangkaian proses pembangunan dan renovasi masjid yang dilakukan di setiap jaman.

Sejarah Singkat

foto by instagram.com/bg_plgkece

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Agung Palembang ini merupakan masjid tertua di Palembang dan salah satu masjid bau tanah yang ada di Indonesia, alasannya dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau pada periode pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam.

Proses pembangunan berlangsung cukup usang, karena sebagian material didatangkan dari luar negeri seperti dari Negeri China dan dari Eropa. Peletakan kerikil pertama dilakukan pada tahun 1738, sedang peresmiannya gres dilakukan sepuluh tahun lalu, tepatnya pada 26 Mei 1748.

foto by instagram.com/bang_bunk

Saat itu bangunan yang diberi nama Masjid Sultan ini masih belum memiliki menara dengan ukuran 30 x 36 meter2 berbentuk bujur sangkar. Dan menjadi masjid terbesar di Nusantara dengan daya tampung mencapai 1.200 jema’ah.

Konsep bangunan masjid dirancang seorang arsitek dari Eropa yang memadukan unsur bangunan khas Nusantara yang dipengaruhi gaya arsitektur China dan Eropa.

Gaya arsitektur Nusantara dapat dilihat pada struktur bangunan utama yang mempunyai bentuk undakan layaknya candi Hindu – Jawa dengan bagian puncak berbentuk limas yang berhiaskan goresan bunga tropis serta jurai daun simbar.

foto by instagram.com/gudie_photography

Ukiran pada bagian puncak atau atap itulah yang mendapat imbas dari gaya arsitektur China karena menyerupai bangunan-bangunan kelenteng.

Sedang efek Eropa mampu dilihat dari material beling dan marmer yang diimpor dari Italia serta bentuk jendela masjid yang besar dan tinggi sehingga menawarkan kesan yang kokoh.

Pembangunan menara dilakukan pada masa Pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin. Saat itu menara dibangun di sisi Barat dengan lokasi yang terpisah dari bangunan utama. Menara setinggi 20 meter berbentuk segi enam tersebut ibarat menara kelenteng dengan bentuk atap yang melengkung di bab ujung.

instagram.com/ghibran_3s

 

Pada kurun Pemerintahan Kolonial Belanda, pemugaran dilakukan secara berturut-turut sepanjang tahun 1819 – 1821 pasca terjadinya perang besar yang berlangsung selama 5 hari.

Pada tahun 1848, Pemerintah Hindia Belanda melaksanakan perluasan terhadap bangunan masjid dan mengganti gerbang utama dari semula bergaya tradisional menjadi Doric Style. Pada tahun 1879, giliran serambi masjid yang diperluas dengan menambahkan tiang beton berbentuk lingkaran.

Perluasan dan pemugaran termasuk penyempurnaan menara kembali dilakukan pada kala Pemerintahan Nata Agama Karta Manggala Mustofa Ibnu Raden Kamaluddin di tahun 1897. Saat itu nama masjid juga diganti dari Masjid Sultan menjadi Masjid Agung.

foto by instagram.com/nasrullhabib

Pasca kemerdekaan, tepatnya ditahun 1966 – 1969, kawasan masjid diperlua sekaligus dibangun lantai dua sehingga daya tampungnya mencapai 7.750 jama’ah. Pada tahun 1970 dibangun menara baru setinggi 45 meter dengan tanpa menghilangkan menara asli yang bergaya China.

Pemugaran terakhir dilakukan pada tahun 2.000 dan diresmikan oleh Presiden Megawati pada 16 Juni 2003. Lewat pemugaran tersebut kapasitas pun semakin bertambah dengan daya tampung mencapai 9.000 jama’ah.

Megah dan Indah

foto by instagram.com/ceritapalembang

Meski telah berulangkali mengalami renovasi dan pemugaran, bentuk orisinil dari bangunan Masjid Agung Palembang sebagaimana saat pertama kali dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I masih dapat dilihat di beberapa bagian, sehingga nostalgia tempo dulu mampu dirasakan pada saat berada di lingkungan masjid atau disaat menjalankan ibadah.

Perpaduan antara budaya satu kurun yang lalu dengan budaya modern dikala ini memberikan daya tarik tersendiri, sehingga siapapun akan betah untuk berlama-lama di dalam lingkungan masjid.

Terlebih akomodasi yang tersedia di tempat beribadah umat Islam ini relatif lengkap, mirip area parkir yang luas, halaman yang dihiasi taman yang indah beserta bundaran kolam air mancur di depannya, kawasan penitipan sepatu dan sandal, tempat wudlu dan kamar mandi, kantor sekretariat, aula serba guna, akomodasi hotspot internet gratis serta perpustakaan.

foto by instagram.com/ulyaeuy

Perpustakaan di Masjid Agung Palembang berada di lantai III yang dapat dicapai dengan melalui anak tangga dari serambi kiri kalau masuk dari gerbang bundaran air mancur.

Perpustakaan ini bangun pada tahun 1975 dan memiliki aneka macam koleksi buku-buku Islam berusia tua, mulai dari Kitab Kuning, Kitab-kitab yang membahas tentang Tauhid, Fiqih, Tafsir, Hadist serta Sejarah Islam. Perpustakaan ini dibuka untuk umum dari jam 09.00 – 16.00.

Selain berguru ihwal ilmu-ilmu agama melalui kitab-kitab yang ada di perpustakaan, dikala berada di lantai III pengunjung juga mampu melihat indahnya landskap Kota Palembang dari atas ketinggian.

Jika masih belum puas melihat dari lantai III, pengunjung dapat menuju ke puncak menara dengan terlebih dahulu meminta ijin kepada takmir atau pengurus masjid.

Sebagaimana masjid yang lain, banyak sekali aktifitas mewarnai Masjid Agung Palembang, mulai dari aktivitas harian, mingguan, bulanan hingga tahunan.

Kajian-kajian Islam juga menjadi acara rutin di daerah ini, sehingga tidak heran jikalau melahirkan sejumlah ulama besar, mirip Syekh Abdul Shamad Al-Palembani, Syihabuddin bin Abdullah dan Kemas Fachruddin.

foto by instagram.com/bukanprastya

Sepanjang tahun 2010 – 2012, Masjid Agung Palembang digunakan sebagai daerah untuk memamerkan Al-Qur’an Al-Akbar yang merupakan Al-Qur’an terbesar di dunia yang penulisannya diprakarsai Sofwatillah Mohzaib.

Tujuan ditempatkannya Al-Qur’an yang diukir dari kulit pohon trembesi dengan dimensi 177 x 144 x 2,5 cm tersebut di Masjid Agung ialah untuk dikoreksi seluruh umat sebelum diresmikan Presiden Soesilo Bambang Yudoyono bersama delegasi OKI (Organisasi Konferensi Islam) pada 30 Januari 2012.

Pada setiap hari Jumat sehabis dilaksanakannya Sholat Jumat, halaman Masjid Agung Palembang diramaikan oleh para pedagang yang menjual banyak sekali jenis dagangan.

Pasar Jumat tersebut tidak hanya diserbu oleh mereka yang gres turun dari masjid, tapi juga oleh masyarakat, alasannya adalah barang-barang yang dijual tidak hanya sebatas buku-buku agama dan perlengkapan beribadah, tapi juga barang-barang kebutuhan sehari-hari serta aneka masakan.

Berbagai jenis kuliner dan minuman, bahkan kuliner khas Kota Palembang sebetulnya dapat dijumpai di Pasar Jumat ini.

Namun kalau dirasa masih belum cukup, atau jika berkunjung pada hari-hari yang lain, apabila ingin menikmati kuliner khas Palembang mampu menuju ke tempat Pasar 26 Ilir yang jaraknya relatif bersahabat.

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni