Memeriksa Suasana Lebaran Di Mekkah, Tidak Ada Konvoi

class=”kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left “
data-id=”12185″
data-slug=””>

5
/
5
(
2

votes

)

Susana lebaran di Mekkah tentu berbeda dengan suasana lebaran di Indonesia. Sebagai negara dengan umat muslim terbesar di seluruh Indonesia, perayaan idul fitri di negara kita ini sangatlah meriah.

Mulai dari habis magrib sampai isya, takbir dikumandangkan, menggema di seluruh masjid maupun mushola. Diikuti letusan kembang api di seluruh daerah. Karena itulah momen malam idul fitri menjadi yang paling ditunggu-tunggu.

Setiap kawasan mempunyai tradisi perayaan masing-masing, semua umat senang. Gema takbir dimana-mana menenangkan jiwa menentramkan hati. Namun, hal itu mungkin takkan kau temui bila berlebaran di Mekkah.

Malam Lebaran

Malam takbiran idul fitri di Mekkah tidak ada gema takbir yang disertai bedug, baik di masjid maupun mushola. Takbir hanya dikumandangkan tanpa bedug serta alat pengiring lainnya. Suasana lebaran di Mekkah mungkin berdasarkan kamu akan lebih hening dibandingkan Indonesia.

Selama berabad-kurun acara malam idul fitri tidak dilakukan dengan pawai atau konvoi. Takbir memang dikumandangkan menggunakan pengeras bunyi di masjid dan itu waktunya sesudah sholat subuh, 1 syawal.

Tidak mirip di Indonesia yang mulai sesudah buka pada puasa terakhir atau malamnya. Walaupun malam terakhir puasa, kemudian bersiap diri menyambut hari kemenangan, kegiatan tetap berjalan seperti biasanya. Tak ada keramaian di jalan-jalan.

Malam Idulfitri di Mekkah, foto: jatimtimes.com

Setelah magrib dan isya di Masjid seluruh Mekkah melaksanakan acara sesuai rutinitas. Gema takbir tak bersahutan, tapi kebanyakan masyarakat sana beribadah mirip biasa di masjid serta merenungi semua kesalahan atau perbuatan yang sudah dilakukan selama satu tahun.

Suasana Jalanan

Suasana jalanan atau area kota, foto: penyukajalanjalan.com

Jika di Indonesia, jalanan ramai sekali dipenuhi truk, kendaraan beroda empat atau motor melaksanakan konvoi mengumandangkan takbir dengan pengeras suara dan beduk. Di Mekkah, kamu takkan menemui hal itu. Semua masyarakat melakukan kegiatan mirip hari-hari biasa.

Supir bus atau taksi melaksanakan aktivitas mirip biasanya. Kendaraan berjalan lancar tanpa macet panjang seperti di negara kita. Begitu pula pegawapemerintah kepolisian maupun masyarakat muslim dengan profesi lainnya. Mereka bekerja sesuai bidangnya, termasuk jamaah umroh.

kondisi pasar saat lebaran di mekkah, foto: detik.com

Semuanya tetap melaksanakan rutinitas, beribadah serta mendekatkan diri pada Allah. Berbeda dengan kita yang sudah libur jauh-jauh hari, kemudian pulang kampung ke kampung halaman dan menyiapkan perayaan idul fitri.

Sajian Idulfitri

Selama ini ketika lebaran tiba, kita selalu menikmati hidangan ketupat, opor ayam serta sambal goreng. Ditambah lagi kerupuk, rasanya sedap dan nikmat tiada tara. Dimakan bersama orang-orang tercinta sehabis saling bermaaf-maafan.

Sajian lebaran di Mekkah, foto: dreamers.id

Kalau di Mekkah, menu lebarannya adalah sama mirip ketika puasa ramadhan. Kurma merupakan sajian wajib ada serta beberapa kuliner khas lainnya. Tak ada opor ayam ataupun sambal goreng, masyarakat di Mekkah tidak memiliki sajian Istimewa.

Selain kurma, mereka juga menyediakan coklat serta beberapa makanan manis lainnya. Bila kamu umroh, minumnya mampu menikmati zam-zam. Itulah yang menciptakan momen lebaran di Mekkah lebih berkesan dan tak terlupakan.

Malam Takbiran di Mekkah, foto: tribunnews.com

Makanan berat akan disajikan dalam wadah besar, kemudian dimakan bantu-membantu keluarga, kerabat maupun sahabat. Salah satu masakan wajib yaitu kunafa yakni sejenis mi kering ditimpa susu kental. Kalau bagi kita, rasanya mungkin gila tapi kalau untuk orang saja itu nikmat.

Pakaian Idulfitri

Pakaian Lebaran, foto: dreamers.id

Karena mereka melakukan acara seperti biasanya dikala malam menjelang idul fitri, maka pakaianpun begitu. Mereka tidak terlalu mempermasalahkan soal pakaian baru atau tidak. Tapi, paling penting pakaian untuk sholat ied harus higienis, suci serta rapi.

Sehari sebelum sholat ied, masyarakat Mekkah akan menyiapkan bajunya untuk dicuci. Kalau ada robek atau sobek, mulailah dijahit hingga benar-benar kembali bagus. Mereka biasanya mengenakan juba putih.

Suasana Masjid

suasana sehabis sholat ied di Mekkah, foto: gerbangkaltim.com

Menurut beberapa jamaah umroh yang berlebaran di Mekkah, mereka melihat masjid dipenuhi para jamaah. Jamaah sholat ied, padat sekali. Jika ingin mendapatkan barisan depan, haruslah berangkat sangat awal.

Tak hanya memenuhi ruangan dalam saja, tapi setiap sudut dekat masjid juga dipenuhi jamaah. Bahkan hingga jalan raya dipadati para jamaah, rasanya tak ada celah sedikitpun. Kondisi mirip ini juga terjadi saat sholat idul adha.

Para jamaah sudah ada sejak sholat subuh yaitu pada jam 04.45 waktu setempat. Setelah selesai sholat subuh, takbir mulai dikumandangkan. Semua jamaah khusuk serentak melafalkan kalimat-kalimat Allah itu sampai waktunya sholat ied tiba pada jam 06.10 waktu setempat.

Sesudah sholat ied, imam besar menyampaikan kotbah selama 1 jam. Kotbahnya berisi perihal mengingatkan umat muslim semoga selalu meningkatkan ketakwaan serta menjaga tali silaturahmi hingga kapanpun.

Setelah Sholat ied

Auasana Masjid,f oto: gerbangkaltim.com

Selepas melakukan sholat idul fitri, seluruh jamaah saling berjabat tangan dan bermaaf-maafan. Semua dosa dilebur dengan berjabat tangan. Setelah itu, orang-orang membagikan hadiah pada belum dewasa disana.

Lalu, ada pula yang turun ke jalan untuk menunjukkan kemurahan hatinya. Para laki-laki disana, menjelang lebaran akan membeli materi masakan pokok dalam jumlah besar. Lalu, mereka bagikan kepada fakir miskin dengan meletakkan di depan rumah secara acak.

Tradisi perayaan idul fitri ini berbeda sekali dengan Indonesia. Setelah sholat ied, biasanya kita eksklusif pulang, kemudian meminta maaf kepada keluarga. Selanjutnya mengunjungi tetangga dan kerabat erat.

Sebenarnya tradisi lebaran di Mekkah dan Indonesia berbeda, tapi paling penting adalah makna idul fitri. Sebagai eksklusif yang kembali fitrah, kita harus menjadi semakin akrab dengan Allah.

Selain itu, kita juga harus mengutamakan kebersamaan serta persatuan, terutama antara seluruh umat islam. Namun, tak boleh pula melupakan umat lainnya, kita tetap menjaga toleransi antar umat beragama.

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni