Rumah Adab Prai Ijing Sumba, 1 Dari Sedikit Jendela Masa Lalu Di Tanah Sumba

Rumah Adat Prai Ijing Sumba populer dengan bentukya yang Unik. Warga di kampung budpekerti Prai Ijing masih memakai rumah budbahasa itu, yang berjulukan Uma Bokulu atau Uma Mbatangu. Mereka juga masih memegang adab tradisi nenek moyang yang telah berusia ratusan tahun tersebut.

Rumah Adat Prai Ijing Sumba populer dengan bentukya yang Unik. Warga di kampung adat Prai Ijing masih menggunakan rumah adat itu, yang bernama Uma Bokulu atau Uma Mbatangu.
Rumah Adat Prai Ijing Sumba. Image via: travel.detik.com

Posisi Kampung ini pun juga indah. terletak di atas bukit yang dikelilingi alam yang masih asri dan alami, akan menyihir hati pengunjungnya. Sebuah kampung budpekerti dengan rumah budbahasa Sumba yang masih asli, khas dengan menara di atasnya, kubur batu, dan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi leluhur.

Prai sendiri berarti kampung. Ijing artinya kedondong hutan. Kampung ini dinamakan mirip itu sebab dulunya banyak kedondong hutan tumbuh di sini. Rumah adab Prai Ijing Sumba dinamakan Uma Mangu Toko.

Uma yang berarti rumah, Mangu itu punya, dan Toko itu menara. Sehingga mampu diartikan Rumah yang Memiliki Menara. Semula terdapat 44 buah rumah, tetapi sekarang jumlahnya berkurang menjadi 32 rumah.  Pengurangan itu akibat bencana kebakaran tahun 2000 silam, rumah yang rusak terbakar belum dibangun lagi.

Posisi Kampung ini pun juga indah. terletak di atas bukit yang dikelilingi alam yang masih asri dan alami, akan menyihir hati pengunjungnya.
Lingkungan yang Asri. Image via: riauaktual.com

Simak juga: 11 lokasi wisata di Sumba

Lokasi Rumah Adat Prai Ijing Sumba

Lokasi wisata budaya Rumah Adat Prai Ijing, di Desa Tebara, Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Sebuah kampung adab dengan rumah adab Sumba yang masih orisinil.

Lokasinya sangat strategis, hanya berjarak 2,6 km dari Waikabubak, ibukota Sumba Barat atau sekitar 43 km dari Bandar Udara Tambolaka.

Jam Buka Rumah Adat Prai Ijing Sumba

Waktu terbaik untuk berkunjung ialah di pagi hari dikala warga mulai beraktifitas atau di sore hari saat mereka kembali dari aktifitasnya.

Tiket Rumah Adat Prai Ijing Sumba

Pengelolaan terhadap pengunjung yang datang sudah terorganisir dengan baik, setiap pengunjung wajib membayar retribusi sebesar Rp 10.000. Ditambah pula dnegan biaya parkir, bagi pengunjung yang membawa kendaraan.

Fasilitas Kampung Prai Ijing.
Fasilitas Kampung Prai Ijing. Image via: lexyleksono.com

Fasilitas Rumah Adat Prai Ijing Sumba

Fasilitas wisata di perkampungan rumah etika prai ijing ini sudah cukup memadai. Parkir, toilet, dan penjual kuliner maupun cenderamata, mampu diakses dengan mudah oleh pengunjung.

Daya Tarik Rumah Adat Prai Ijing Sumba

Ada kurang lebih 32 rumah dan 300 jiwa di kampung ini yang menghuni Kampung Adat Prai Ijing. Mereka hidup dengan hening dan harmonis, berselaras dengan alam yang indah, dan etika budaya yang kaya. Sebagian besar mereka berprofesi sebagai petani.

  1. Rumah Adat Prai Ijing Sumba berbasis Kepercayaan Marapu

Kubur Batu Depan Rumah Adat Prai Ijing Sumba.
Kubur Batu Depan Rumah. Iamge via: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Simak juga: bertemu kuda liar di Savana purukambera

Kampung Adat Prai Ijing ini dibangun atas doktrin asli orang Sumba ialah Marapu. ‘Ma’ berarti ‘Yang’ dan ‘Rapu’ yang artinya ‘Jiwa yang sudah pergi’. Masyarakat berkomunikasi dengan Sang Pencipta melalui arwah para leluhur. Arwah-arwah leluhur lebih bersahabat dengan Sang Pencipta.

Arwah-arwah leluhur lebih akrab dengan Sang Pencipta. Keyakinan mereka atas arwah leluhur ini, terlihat di setiap persembahyangan budpekerti. Warga selalu menyebut leluhurnya, bahkan hingga keturunan ketujuh. Sampai dengan leluhur dari 180 tahun yang kemudian.

Keyakinan mereka atas arwah leluhur ini, terlihat di setiap persembahyangan budbahasa.

Kubur kerikil yang berada di depan rumah, menjadi daerah peristirahatan terakhir dari keluarga. Saat ada anggota keluarga meninggal, beliau akan dikuburkan dalam kubur kerikil sesuai ‘kabisu’ atau klannya.

Klan ini penting sebab menentukan tata kehidupan orang sumba dari membangun rumah, kawin, program budbahasa, hingga dengan kedukaan. Semuanya ditentukan lewat Klan.

  1. Struktur Rumah Adat Prai Ijing Sumba

Uma Mbatangu atau rumah menara struktur khas rumah adat prai ijing sumba.
Uma Mbatangu. Image via: tripadvisor.com

Rumah Adat Prai Ijing Sumba yang biasa disebut Uma Bokulu juga disebut Uma Mbatangu. Uma Mbatangu berarti rumah menara. Benar saja, rumah adab sumba memang besar dan bermenara, ketinggiannya mampu mancapai 30 meter.

Rumah-rumah bangun mengelilingi kubur kerikil peninggalan zaman Megalitikum. Rumah adat Sumba penuh dengan nilai-nilai filosofis. Setiap rumah budbahasa dibagi menjadi tiga bab ialah menara rumah, bangunan utama, dan bab bawah rumah.

Menara rumah menjadi simbol bagi para roh yang mempunyai kedudukan tinggi. Kemudian, bab bangunan utama menjadi simbol daerah pemujaan sekaligus tempat hunian. Dalam area tengah inilah kegiatan keseharian dilakukan.

Dapur atau perapian berada bagian tengah rumah di antara 4 pilar utama.

Struktur Rumah Adat Prai Ijing Sumba.
Struktur Rumah Adat Prai Ijing Sumba. Image via: docplayer.isu

Simak juga: Danau Lut Tawar di ketinggian Aceh tengah

Lalu bagian bawah menjadi kawasan hewah peliharaan dan roh jahat. Sedangakan bagian depan rumah digantung tulang babi atau tanduk kerbau untuk menunjukan bahwa si pemilik rumah telah memotong hewan ternak sebagai penanda kedudukan status sosial di masyarakat.

Ada tiga tingkatan di rumah budbahasa Uma Mangu Toko ini. Tingkat paling bawah dinamakan Sari Kabungah, atau tempat hewan. Tingkat kedua untuk daerah tinggal insan dengan perapian yang ada di tengahnya.

Paling tinggi yakni menara atau ‘Madalo’, tempat penyimpanan materi pangan, padi, jagung dan pusaka. Bentuk menara yang menjulang tinggi ini sebagai simbol pemujaan kepada Sang Pencipta. Sementara, dua tanduk yang ada di atas, perlambang laki-laki dan perempuan.

  1. Tengkorak Kerbau

Tengkorak kerbau di depan rumah adat prai ijing sumba.
Tengkorak kerbau di depan rumah etika. Image via: id.wikipedia.org

Tulang-tulang kepala kerbau, taring dan rahang babi yang dipasang di muka rumah memperlihatkan penanggalan adat mereka, juga untuk mengingatkan setiap kejadian kematian di klan atau keluarga tersebut.

Secara kultur, kerbau ini ialah hewan budpekerti. Makara kalau insan meninggal, jiwanya pergi. Dan mereka merasa jiwa yang pergi ini perlu membawa bekal ke sana, termasuk hewan ini. Kaprikornus dipotong bukan duduk perkara dagingnya, tetapi jiwa hewannya yang pergi bersama jiwa insan yang telah meninggal.

Jiwa kerbau, jiwa kuda, jiwa babi itu pergi bersama mereka ke Prai Marapu, dunia arwah tempat mereka, orang-orang yang sudah meninggal, yang sedang menunggu hari penghakiman.

  1. Kehidupan yang Bersahaja

Keaslian tradisi dan budaya yang dijaga oleh setiap generasi ini berhasil menjadikan kampung Prai Ijing menjadi salah satu tujuan destinasi unggulan untuk wisata budaya di Sumba, alasannya adalah hamper setiap agen travel memasukkan kampung ini di list kunjungannya.

Ibu-ibu menenun di bawah rumah adat Prai ijing sumba
Ibu-ibu Prai ijing menenun. Image via: travel.detik.com

Simak juga: Liukan bumi di Bukit Tanarara Sumba

Meskipun menjadi salah satu pusat perhatian wisatawan, kegiatan warga tetap berlangsung secara alami. Mulai dari ariki, berkebun, hingga bawah umur yang bermain di jalan-jalan utama hingga setapak desa. Ini menciptakan pengunjung bisa ikut beraktifitas dengan warga secara langsung.

Melihat dan berbincang dengan ibu-ibu yang tengah menenun, menganyam kerajinan, nenek-nenek yang sedang asik menumbuk sirih-pinang untuk di makan. Bermain bersama Anak-anak yang berlarian dengan mainan tradisionalnya, suasana perkampungan ini sangat seru dan mengesankan.

Daya arik lain Kampung Adat Prai Ijing selain rumah budpekerti, yaitu hasil kerajinan tangan dan kain tenun tradisional yang bisa dijadikan buah tangan dan kenang-kenangan yang dibawa dari sini. Kain tenun khas Sumba yang dibuat selain dipakai untuk aktifitas sehari-hari dan upacara budpekerti.

Warga juga menjualnya sebagai cenderamata dengan harga mulai dari Rp 250 ribu sampai Rp 1 juta, tergantung motif dan ukuran kain.

spot foto di rumah adat prai ijing sumba
Spot foto. Image via: destinasiadi.id

Simak juga:

Objek Wisata Dekat Rumah Adat Prai Ijing Sumba

Selain wisata budaya, Sumba Barat juga mempunyai wisata Alam. Salah satunya Taman Nasional Manupeu-Tanah Daru. Fasilitas yang tersedia berupa homestay yang dikelola oleh masyarakat sekitar taman nasional. Musim kunjungan terbaik yaitu bulan Maret-Juni dan Oktober-Desember setiap tahunnya.

Sumba barat juga memilikiair terjun. Salah satunya Air Terjun Lapopu yang merupakan air terjun yang terletak di tempat Taman Nasional Manupeu Tanah Daru. Air terjun ini mempunyai ketinggian sekitar 90 meter dengan tipe berudak-undak.

Air terjun Lapopu berada di tepi Sungai Wanokaka dan bersumber dari pecahan sungai Labariri yang muncul dari gua. Airnya jernih berwana hijau toska dan deras. Pemandangan alam yang indah dan alami menciptakan riam ini kerap dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara.

Itulah sekilas citra soal keindahan dan pesona yang ditawarkan ruman adat prai ijing Sumba. Mulai dari lokasi yang indah dan segar, arsitektur tradisional, sampai cara hidup yang selaras dengan tradisi asli insan Sumba.

Tunggu apa lagi? Segera Siapkan liburanmu!

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni