Sebelum Berkunjung Ke Kawah Ijen, Baca Ini Dulu

class=”kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left “
data-id=”6400″
data-slug=””>

5
/
5
(
2

votes

)

Lokasi: Kec. Klobang, Kab. Bondowoso dan Kec. Licin, Kab. Banyuwangi, Jawa Timur

Map: Klik Disini

HTM: Wisatawan Lokal Rp.15.000, Wisman Rp.150.000

Buka Tutup: 24 Jam

Kawah bukan hanya menjadi wilayah disiplin ilmu vulkanologi, tapi juga mampu masuk ke ranah pariwisata jika keindahannya bisa memukau wisatawan. Hal itulah yang terjadi pada Kawah Dieng yang ada di Wonosobo, Jawa Tengah, serta kawah di dua gunung yang ada di East Java ialah Gunung Bromo dan Gunung Ijen.

Keindahan kawah di tiga kawasan tersebut mampu menyihir wisatawan, sehingga setiap harinya ada ribuan orang yang dengan sukarela mengeluarkan tenaga dan juga uang untuk sekedar menikmati keindahan kawah.

Bromo dan Ijen bahkan dikenal di dunia serta banyak dikunjungi turis mancanegara karena memiliki fenomena alam yang sangat istimewa, adalah Milky Way di Bromo dan Blue Fire di Ijen.

foto by instagram.com/ardianthywulan

Fenomena Blue Fire di Kawah Ijen mulai dikenal di dunia semenjak hebat Vulkanologi dan Geologi asal Perancis, Katia Krafft dan Maurice pada tahun 1975 meluncurkan buku yang berjudul “A’lassaut des volcans Islande Indenesie”.

Selanjutnya pada tahun 1999, sebuah acara TV berjulukan “Ushuala Nature” menampilkan jago Vulkanologi, Jacques Marie Bardintzeff dan Penjelajah Alam, Nicolas Hulot, ketika melakukan aktifitas di Kawah Ijen. Acara TV yang digemari di Perancis, Kanada, Swiss, Quebec dan Belgia ini menciptakan nama Ijen semakin dikenal.

Berlanjut pada tahun 2010, sebuah program reality show bertajuk “Peking Express” yang juga terkenal di begara-negara berbahasa Perancis, melakukan shooting di Kawah Ijen.

Disusul Oolivier Grunewald, seorang photographer yang karya-karyanya banyak menghiasi media internasional, mirip National Geographic, Focus dan BBC Wildlife, pada tahun 2013 tiba bersama tim untuk menciptakan proyek film dokumenter selama 30 hari di Kawah Ijen.

Film berdurasi 52 menit yang ditayangkan untuk pertama kali di Ushuaia TV Perancis tersebut berjudul “Kawah Ijen – Le Mystere des Flammes Bleues” yang dalam Bahasa Inggrisnya berjudul “Kawah Ijen Volcano and the Mystery of the Blue Flammes” yang dalam Bahasa Indonesia memiliki Arti “Gunung Kawah Ijen dan Misteri Api Biru”.

foto by instagram.com/yeniafrds

Promosi gratis dari sejumlah media di luar negeri tersebut membuat banyak turis mancanegara berduyun-duyun datang ke Kawah Ijen. Mereka tidak hanya ingin melihat misteri api biru, tapi juga ingin melihat keindahan Kawah Ijen yang masih natural.

Namun sayang, kondisi yang masih alami tersebut saat ini terancam, menyusul dibangunnya sebuah bangunan permanen di salah satu bibir kawah dengan pondasi yang ditempatkan di dapur belerang dan pagar di sekeliling kawah. Ironisnya, proyek ini justru menerima pemberian dari BKSDA Provinsi maupun Kabupaten.

Pembangunan gedung di atas gunung yang tanpa mempertimbangkan pengaruh sosial dan dampaknya terhadap alam tersebut langsung menerima protes dari sejumlah kalangan, mulai dari para pecinta alam, pecinta wisata, pelaku jasa wisata hingga dengan jasa transportasi.

Ribuan orang melakukan demo, berunjuk rasa dan menandatangani petisi untuk menolak proyek senilai Rp. 8 milyar. Namun Sayang, proyek yang dimulai pada bulan November 2017 tersebut hingga saat ini masih tetap berjalan, meskipun protes tidak henti-hentinya disuarakan.

Jika bangunan gedung tersebut benar-benar terwujud, suasana Kawah Ijen yang alami, bisa jadi hanya dapat disaksikan melalui foto-foto dan video yang ada di facebook, youtube, instagram serta wallpaper.

foto by instagram.com/ilham_kurnia_p

Sejarah Deskripsi

Kawah Ijen sebagaimana deskripsi, review dan information yang tertulis di Wikipedia, National Geographic, Indonesia Trip dan Kaskus, yakni sebuah danau yang berasal dari letusan Gunung Ijen. Akibat letusan gunung tersebut terciptalah sebuah kawah dan kawah itu digenangi oleh air sehingga terbentuk sebuah danau kawah yang menyuguhkan pemandangan mempesona.

Kawah ini terletak di tengah kaldera terluas di Pulau Jawa dengan diameter 6 km. Sedang dimensi kawah berukuran 960 x 600 meter2 berkedalaman 200 meter. Danau kawah ini merupakan kawah terbesar dengan tingkat keasaman tertinggi di dunia yang memiliki ph di bawah 0,5, sehingga dapat memnbuat tubuh insan larut dalam waktu cepat.

Karena daerah kawah seluas 2,468 hektas ini berada di atas Puncak Gunung Ijen yang mempunyai ketinggian 2.443 mdpl, menciptakan udara sekelilingpun sangat masbodoh.

Suhu rata-rata di kawasan ini sekitar 10O C bahkan dalam kondisi ekstrim mampu mencapai 2O C. Tidak heran jika sejumlah tumbuhan yang hanya dapat ditemui di dataran tinggi dapat dijumpai di sini, seperti Cemara Gunung, Bunga Edelweis dan Pohon Manisrejo.

Gunung Ijen ialah volcano atau gunung berapi yang terakhir meletus pada tahun 1999 dan hingga tahun 2020 masih memberikan tanda-tanda akan meletus sehingga status Siaga kerapkali disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kepada masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

foto by instagram.com/bratasuartika

Gunung ini letaknya berdampingan dengan Gunung Raung dan Gunung Merapi. Secara administratif gunung ini masuk ke dalam wilayah 2 kabupaten, adalah wilayah Kecamatan Klobang, Kabupaten Bondowoso dan Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur.

Meski berada di bawah pengelolaan Cagar Alam Taman Wisata Ijen Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, dan menjadi primadona wisata dari kedua kabupaten tersebut, namun traveller lebih mengenalnya sebagai bagian dari Kabupaten Banyuwangi, sebab untuk mencapai lokasi wisata lebih dekat bila ditempuh dari Banyuwangi.

Selain itu moda transportasi umum dari seluruh Pulau Jawa yang menuju ke Banyuwangi juga lebih banyak dan lebih lengkap dibanding yang menuju ke Bondowoso.

Rute Menuju Lokasi

Meski yang dituju yaitu puncak gunung, tidak butuh peta maupun smartphone untuk membuka google map, alasannya lokasi Kawah Ijen dapat diakses dengan sangat gampang, meski untuk sampai lokasi relatif berat.

Bagi wisatawan from Bali, perjalanan menuju ke Kawah Ijen dapat dimulai sesudah menyeberang menggunakan kapal ferry dan berlabuh di Pelabuhan Ketapang. Di pelabuhan tersebut, wisatawan yang memakai kendaraan eksklusif mampu langsung menuju ke Kota Banyuwangi, berlanjut ke Kecamatan Licin hingga melewati Desa Tamansari tepatnya di Dusun Jambu sebelum kesannya tiba di Paltuding.

Wisatawan yang berangkat dari Surabaya atau dari kota-kota lain di seluruh Pulau Jawa, mirip Jakarta, Bandung atau Yogyakarta, perjalanan mampu ditempuh melalui 2 rute, ialah melewati Bondowoso serta Banyuwangi. Keduanya mempunyai plus dan minus.

foto by instagram.com/hengkiahmadoktiarto

Untuk yang lewat Bondowoso, jarak dari Surabaya ke Bondowoso lebih bersahabat, namun jarak dari Bondowoso ke Paltuding lebih jauh ialah sekitar 76 km. Sedang untuk yang lewat Banyuwangi, jarak Surabaya ke Banyuwangi lebih jauh, namun jarak Banyuwangi ke Paltuding lebih erat ialah sekitar 30 km.

Wisatawan yang memilih rute Bondowoso, dari Surabaya dapat menuju ke Pasuruan, Probolinggo, Situbondo hingga tiba di Bondowoso. Sedang yang menentukan rute Banyuwangi, dari Surabaya mampu menuju ke Pasurusan, Probolinggo, Lumajang, Jember sampai tiba di Banyuwangi.

Bagi wisatawan yang membawa mobil langsung, kedua rute tersebut tidak ada bedanya, sebab bila ditempuh dari Surabaya jaraknya hampir sama. Namun bagi wisatawan yang menggunakan angkutan umum, disarankan untuk menentukan rute Banyuwangi, alasannya moda transportasi menuju Paltuding lebih lengkap dan lebih banyak.

Di Banyuwangi, wisatawan mampu memilih trasnportasi jenis apa yang akan dipakai, mulai dari menyewa Jeep Trooper seharga Rp.600.000 – Rp.700.000, sewa motor seharga Rp.75.000 perhari, naik ojek online dengan tarif Rp.150.000 pulang – pergi, serta menyewa angkot.

Untuk sewa angkot, baik yang turun di Stasiun Karangasem maupun di Terminal Sasak Perot biayanya sekitar Rp.125.000 – Rp.150.000 yang dapat diisi 5 – 7 orang. Meski biayanya lebih murah, angkot tersebut hanya dapat mengantar sampai Kantor PT Candi Ngrambi yang ada di Desa Tamansari.

foto by instagram.com/pemayun

Setelah itu wisatawan harus melanjutkan perjalanan menggunakan truk pengangkut welirang menuju Paltuding dengan memberi uang Rp.5.000 perorang ke sopir truk. Jadwal keberangkatan truk pengangkut sulfur ke Paltuding ini pada jam 07.00 dan jam 12.00. Sedang jadwal turun dari Paltuding ke Kantor PT Candi Ngrambi pada jam 11.00 dan jam 16.00.

Wisatawan yang akan menuju ke Kawah Ijen, baik yang datang dari Bondowoso maupun Banyuwangi, semuanya harus berhenti di Pos Pertama, ialah di Paltuding. Di sinilah mereka memarkir kendaraan, membayar tiket masuk serta menyiapkan perbekalan sebelum melakukan hike ke puncak Gunung Ijen.

Jarak antara Paltuding ke Kawah Ijen sekitar 3 km dan sebelum hingga ke kawasan puncak, tepatnya sekitar 2 km dari Paltuding, wisatawan akan melewati kawasan pemberhentian terakhir yang disebut Pos Bunder. Di sini aroma sulfur yang menyengat sudah mulai mampu tercium.

Perjalanan dari Pos Bunder menuju Puncak Ijen, lebih berat dari sebelumnya, alasannya adalah track yang harus dilewati berupa tanah berpasir yang bercampur batu halus dan memiliki sudut kemiringan antara 10O – 35O. Total waktu tempuh dari Paltuding menuju ke Puncak sekitar 2 – 3 jam, tergantung dari kondisi medan dan fisik wisatawan.

Pesona Alam

foto by instagram.com/cilkecilkecil

Kawah Ijen tidak hanya menyuguhkan pemandangan yang indah, tapi wonderful! The big lake yang bekerjsama merupakan kawah ini terhampar dengan warna hijau kebiru-biruan yang terkadang berwarna biru kehijau-hijauan.

Dengan dinding kawah yang dihiasi belerang berwarna kekuning-kuningan menjadi sangat kontras dan semakin tampak indah oleh eksistensi Pohon Manisrejo (Cantiqi) yang tumbuh di sekitar lereng kawah, sebab daun dari pohon tersebut berwarna kemerah-merahan.

Di tepi Kawah Ijen, wisatawan akan dibentuk terpukau oleh keindahan alam yang tampak di kejauhan berlatarbelakangkan gunung-gunung yang tinggi menjulang, seperti Gunung Raung, Gunung Rente, Gunung Suket dan Gunung Merapi. Gunung Merapi yang dimaksud bukan yang ada di Sleman Yogyakarta, melainkan yang ada di Banyuwangi.

Keindahan lainnya yang mengagumkan di sini yaitu terbit dan tenggelamnya matahari alias sunrise dan sunset. Karena cahaya lembut yang dipancarkan matahari berpadu serasi dengan pegunungan dan bebukitan yang ada di kejauhan.

Namun, puncak dari segala keindahan Kawah Ijen yakni sebuah fenomena alam yang hanya terjadi pada pukul 05.00 pagi. Fenomena tersebut dinamakan Blue Fire atau Api Biru, yang merupakan satu-satunya Blue Fire di dunia yang mampu dinikmati setiap hari. Blue Fire yang keluar dari tengah-tengah kawasan penambangan belerang itulah yang diburu para wisatawan utamanya turis mancanegara.

foto by instagram.com/roudyams

Tidak hanya keindahan alam saja yang menarik untuk dinikmati di tempat Gunung Ijen ini, tapi juga aktifitas para penambang sulfur tradisional. Dengan nyali yang besar para penambang tersebut mengambil welirang yang terdapat di dasar kawah.

Mereka mengumpulkan lelehan belerang dari pipa yang terhubung ke sumber gas vulkanik dengan peralatan sederhana, bahkan untuk menutup hidungpun mereka hanya menggunakan sarung.

Lelehan welirang yang masih dalam bentuk cair saat dikumpulkan, dalam waktu beberapa ketika akan membeku. Belerang beku itu lalu dipotong-potong, dan diangkut dengan cara dipikul. Para penambang tersebut membawa pikulan berisi sulfur seberat 80 – 100 kg dengan melewati jalan setapak di lereng kaldera sejauh sekitar 3 km.

Selain menambang belerang, terkadang mereka juga menjadi guide bagi wisatawan yang membutuhkan serta menciptakan kerajinan dengan bahan sulfur untuk dijual kepada wisatawan guna menambah sumber penghasilan.

Harga Tiket Masuk

foto by instagram.com/nangijen

Harga tiket masuk untuk menuju ke Kawah Ijen oleh pihak pengelola dibedakan antara wisatawan lokal dan wisman dengan perbedaan harga yang sangat menyolok. Wisatawan lokal hanya dikenakan HTM sebesar Rp.5.000 pada hari biasa dan Rp.7.500 pada akhir pekan. Sedang HTM untuk wisman sebesar Rp.100.000 pada weekdays dan Rp.150.000 saat weekend.

Fasilitas

HTM tersebut dibayar di Pos Jaga yang ada di Paltuding, dan di sini pula wisatawan menyiapkan perbekalannya sebelum melakukan pendakian. Karena itulah di Paltuding disediakan sejumlah fasilitas umum bagi wisatawan seperti kamar mandi, toilet, mushollah, area parkir yang luas, camping ground serta penginapan milik Perhutani.

Bagi wisatawan yang tidak membawa perbekalan, di Paltuding juga terdapat warung-warung yang menjual kuliner serta daerah penyewaan peralatan untuk mendaki mirip masker dan senter. Penjual makanan dan minuman juga dapat ditemui di pos terakhir, hanya saja di Pos Bunder mereka hanya berjualan pada pagi dan siang hari saja.

Wisatawan juga tidak perlu gundah untuk mencari penginapan, karena di sekitar tempat Ijen terdapat sejumlah penginapan, mulai dari homestay hingga dengan hotel bintang lima. Beberapa diantaranya yakni Ijen Resort and Villas, Kawah Ijen Inn, Catimor Homestay, Arabica Homestay, Ijen Resto & Guest House, Jiwa Jawa Resort Ijen dan sejumlah penginapan yang lain.

Wisata Terdekat

Selain ke Kawah Ijen, wisatawan juga mampu melanjutkan tour ke beberapa daerah wisata lainnya di kawasan Banyuwangi yang juga tidak kalah menarik, seperti Pulau Merah, Baluran National Park, G-Land (Pantai Plengkung), Teluk Hijau, Pantai Boom, Blue Bay, Bangsring Underwater dan sejumlah kawasan wisata lainnya.

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni