Sitinjau Lauik, Indah Namun Sering Memakan Korban

class=”kk-star-ratings kksr-valign-top kksr-align-left “
data-id=”9477″
data-slug=””>

4
/
5
(
5

votes

)

Lokasi: Padang – Arosuko – Solok, Sumatera Barat

Map: Klik Disini

HTM: Gratis

Buka Tutup: 24 Jam

Topografi Pulau Sumatera yang berbukit-bukit, membuat pulau ini mempunyai cukup banyak ruas jalan yang ekstrim berupa tanjakan dan turunan yang tajam serta kelokan-kelokan yang berbahaya.

Setidaknya ada 4 ruas jalan ekstrim yang cukup bersahabat di indera pendengaran masyarakat Sumatera dan membuat mereka harus ekstra hati-hati ketika melintas di keempat ruas jalan tersebut.

Keempat ruas jalan ekstrim tersebut adalah: Kelok 9 yang jaraknya sekitar 70 km dari Bukittinggi ke arah Pekanbaru, Kelok 44 yang berada di Kabupaten Agam Sumatera Barat.

Silaing atau Silayiang yang berada di tempat perbukitan Kabupaten Tanah Datar, Sumbar dan Sitinjau Lauik yang merupakan jalan penghubung utama dan satu-satunya antara Padang – Arosuko – Solok.

foto by instagram.com/abrarsuryadi

Meski memiliki lintasan yang ekstrim, keempat ruas jalan tersebut cukup menarik perhatian, alasannya adalah dibalik ancaman yang dihadirkannya tersuguh pemandangan alam yang spektakuler dan menakjubkan.

Karena itulah banyak foto-foto dan gambar video yang memotret keindahan alam di keempat ruas jalan ekstrim tersebut menghiasi linimasa facebook, twitter, youtube, instagram dan situs-situs pariwisata. Tidak terkecuali keindahan pemandangan alam yang ada di Sitinjau Lauik.

foto by instagram.com/iqbaldevandra

Sitinjau Lauik merupakan jalan utama dan satu-satunya yang menghubungkan Kota Padang dengan Kota Solok, dan berbatasan dengan Jalan Raya Indarung, Padang. Pintu masuk jalan ini jaraknya sekitar 15 menit dari PT Semen Padang atau sekitar 1 jam dari sentra Kota Padang.

Karena berada pada ketinggian 220 meter dari atas permukaan maritim, selain membuat udara di sekelilingnya berhawa cuek, juga membuat jalan yang terbentang di sepanjang ruas jalan antara Padang – Arasuko – Solok ini penuh dengan kelokan-kelokan tajam dalam bentuk tanjakan dan turunan yang ekstrim.

Meski Sitinjau Lauik terbilang jalur ekstrim, namun jalur ini tidak pernah sepi dari kemudian lalang kendaraan selama 1 x 24 jam, mulai dari kendaraan roda dua, roda empat hingga dengan truk-truk besar yang mempunyai belasan roda.

foto by instagram.com/ridwanhr

Dalam sehari semalam, diperkirakan sebanyak sembilan ribu lebih kendaraan yang melintas, sebab jalur ini memang jalur utama dan satu-satunya yang menghubungkan Padang dengan Solok.

Ironisnya, ruas jalan yang tidak pernah tidur ini hampir setiap hari terjebak kemacetan. Penyebab pertama alasannya seringnya terjadi longsor, terutama di trend hujan.

Penyebab kedua alasannya adalah banyaknya truk-truk besar yang berhenti di pinggir jalan disebabkan alasannya mengangkut beban yang melebihi tonase sehingga tidak berpengaruh dikala harus berjalan menanjak atau disebabkan rem yang putus.

foto by instagram.com/iqbaldevandra

Jika sudah terjadi longsor atau saat ada truk besar yang menutup separuh tubuh jalan, kemacetanpun tidak mampu dihindari meskipun ruas jalan ini sudah beberapa kali diperlebar.

Tidak hanya kemacetan, kecelakaan di sepanjang ruas jalan Sitinjau Lauik juga kerap terjadi, bahkan bisa dibilang hampir setiap hari yang tidak jarang memakan korban jiwa. Sehingga banyak beredar dongeng-dongeng misteri yang membuat siapapun akan semakin berhati-hati saat melintasi ruas jalan yang ekstrim ini.

Karena seringnya terjadi kemacetan dan kecelakaan itulah menciptakan para petinggi daerah berupaya untuk mengurangi tingkat kepadatan lalu lintas di area tersebut.

Mulai dari pembangunan terowongan bawah tanah di perut bumi Gantuang Ciri (Solok) sampai Limau manih (Padang), menerapkan sistem buka – tutup pada saat-ketika tertentu mirip pada isu terkini hujan, berkoordinasi dengan perusahaan angkutan biar mereka mematuhi ketentuan muatan yang berlaku dan berbagai cara lain.

foto by instagram.com/iqbaldevandra

Namun sayang, hanya beberapa upaya yang mampu direalisasikan dan itupun tidak dilaksanakan dengan maksimal, sehingga kondisi maccet dan seringnya terjadi kecelakaan masih terus berlangsung di sepanjang ruas jalan Sitinjau Lauik.

Keindahan Alam

Meski terbilang ekstrim dan cukup berisiko bagi pengendara yang melintas di sepanjang ruang jalan ini, namun bagi sebagian orang Sitinjau Lauik merupakan lokasi idaman.

Hal tersebut disebabkan karena daerah perbukitan ini memang menyuguhkan pemandangan yang spektakuler dan tidak ditemui di tempat-daerah lain.

foto by instagram.com/trucksumbar32

Disebut Sitinjau Lauik sebab dari daerah ini siapapun akan mampu menikmati pemandangan bahari yang menjadi bagian dari Samodra Hindia dari atas ketinggian serta Kota Padang dan kota-kota lain yang ada di sekitarnya.

Kawasan yang juga bersahabat disebut Padang Scenic Point ini tidak hanya menyajikan panorama alam yang memukau pada pagi – sore hari, tapi juga pemandangan yang romantis pada malam hari, berupa kerlap-kerlip lampu-lampu gedung-gedung dan rumah-rumah penduduk yang ada di Kota Padang.

Kerlap-kerlip lampu tersebut laksana kunang-kunang yang berpadu dengan gemerlap bintang di angkasa, sehingga membuat suasana terkesan romantis. Apalagi ditambah dengan udara sekeliling yang acuh taacuh menggigit tulang.

foto by instagram.com/ridwanhr

Terdapat dua pos di daerah Sitinjau Lauik yang dapat digunakan untuk menikmati view yang terhampar di kejauhan. Pos pertama lokasinya tidak terlalu tinggi namun lebih dari cukup untuk dapat menikmati pemandangan perbukitan.

Pos kedua ditandai dengan bangunan gazebo berbentuk Rumah Adat Minang dan daerah inilah yang dikenal dengan sebutan Padang Scenic Point, sebab dari sini akan tersuguh pemandangan Kota Padang di kejauhan berhias hijaunya bebukitan dan birunya lautan.

Tidak hanya pada saat liburan saja, pos kedua ini dipenuhi oleh pengunjung, tapi juga pada hari-hari biasa. Namun sayang, banyaknya pengunjung tersebut tidak dimanfaatkan dengan maksimal oleh masyarakat setempat dan kurang begitu menerima perhatian dari pemerintah setempat.

foto by instagram.com/sutan_mudo.88

Hal tersebut dapat dilihat dari tidak adanya fasilitas apapun di sekitar Padang Scenic Point. Bahkan, untuk sekedar membasuh muka dan buang air pun tidak tersedia kamar mandi dan WC.

Sementara para pedagang yang berjualan makanan dan minuman ringan, hanya mampu ditemui pada dikala liburan. Itupun jumlahnya mampu dihitung dengan jari dan dengan jenis dagangan yang serba terbatas.

Karena itu, bagi pengunjung yang ingin menikmati tempat perbukitan yang berada di lereng Gunung Talang ini dalam waktu yang relatif usang, disarankan untuk membersihkan badan atau buang air terlebih dahulu sebelum menyusuri ruas jalan Sitinjau Lauik, atau jikalau ingin buang air dikala di Pos kedua, tahanlah sejenak hingga turun dari daerah tersebut.

Setidaknya ada dua kawasan yang dapat dipakai untuk membersihkan badan dan buang air karena menyediakan kemudahan kamar mandi dan WC, ketika akan berangkat serta meninggalkan Sitinjau Lauik.

foto by instagram.com/trucksumbar32

Kedua tempat tersebut juga berfungsi sebagai objek wisata, sehingga mampu dijadikan sebagai pembuka dan penutup kunjungan ke Padang Scenic Point.

Tempat pertama yakni Lubuk Peraku atau Lubuk Paraku yang dapat dijumpai sebelum melewati Sitinjau lauik kalau berangkat dari Kota Padang. Tempat ini berupa pemandian air masbodoh yang memanfaatkan sumber air alam sehingga airnya terasa segar.

Kedua adalah Taman Hutan Raya (THR) Bung Hatta yang memiliki sejumlah titik masuk, salah satunya berada diantara Pos Pertama dan Pos Kedua Sitinjau Lauik, namun pintu masuk utama yang berukuran besar dapat dijumpai sesudah melewati Pos Kedua.

THR Bung Hatta yang diresmikan pada tahun 1980an tidak berbeda jauh dengan kebun raya yang mempunyai berbagai jenis koleksi tanaman pegunungan, beberapa diantaranya tergolong ke dalam tumbuhan langka dan dilindungi.

Di kawasan ini sejumlah akomodasi umum tersedia bagi para pengunjung, mulai dari mushollah, kamar mandi dan toilet sampai dengan rumah makan yang menyediakan aneka macam macam sajian masakan.

Malik Pratama

Menulis Adalah Seni